DR.Syeikh Salman Da’im Ulama Indonesia Yang tidak Berkiblat Pada Popularitas





Masyarakat era tahun 1970-an khususnya para penganut tarekat naqsyabandiah tentu sangat akrab dengan nama seorang ulama besar yang juga seorang politikus asal sumatera barat. Prof.DR.Syeikh haji Jalaludin. Seorang ulama tasawuf yang bukan saja dekat dengan penguasa tetapi juga terlibat langsung sebagai seorang politikus sebagai anggota DPRS/MPRS pada masa itu. Banyak para pengikutnya yang datang hampir diseluruh tanah air indonesia. Sepanjang garis pulau sumatera para pengikut Prof.Dr.Syeikh Haji Jalaludin yang masih tercatat nama – nama mereka diantaranya dari propinsi bengkulu adalah Syeikh Haji Muhammad Rukib Sa’in . beliau berasal dan menetap di kabupaten Kepahiang desa batu belarik sekaligus sebagai seorang politikus. Syeikh Haji Muhammad Rukib Sa’in adalah seorang kepala desa selama hampir 30 tahun dan juga anggota DPRD kabupaten Rejang Lebong. Beberapa di antara yang lain adalah saudara beliau Syeikh Muda Muhammad Tho’ib Sa’in, Syeikh Ali Permadi Desa Taba Penanjung, Syeikh Muhammad Salim Desa Ujan Mas, KH. Muhammad Abdul Hadi desa Tertik yang jejak tempat beliau mengajar masih tersisa di tepi sungai Tertik Kecamatan Tebat Karai Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu. Saat ini mereka telah wafat dan tarekat naqsyabandi mulai kehilangan popularitasnya di propinsi bengkulu.

Menurut berita sejarah yang mereka tuturkan dan dari seorang penerus Prof.DR.Syeikh Haji Jalaludin dan dikonfirmasi dari pengikut yang namanya tertulis di atas. Dari semua pengikut Prof.DR.Syeikh Haji Jalaludin khususnya yang di pulau sumatera. Bahwa Prof.DR.Syeikh Haji Jalaludin memiliki pengikut yang dilantik sebagai resmi untuk meneruskan ajaran beliau  terdapat 1500 orang dengan gelar ”khalifah”. dari 1500 orang khalifah, 150 0rang diantaranya mendapat gelar “Syeikh Muda”. Dan dari 150 orang Syeikh Muda, 11 diantaranya 8 orang mendapatkan gelar Syeikh dengan predikat bersyarat khusus dan 3 dari mereka dengan gelar “Syeikh” penuh. Salah satu dari mereka adalah syeikh Mustari Al Baronti di sulawesi dan menantu beliau Prof.DR. Kadirun Yahya. Msc, di medan sumatera utara (pendiri Universitas Panca Budi Medan).

Syeikh dengan predikat bersyarat seperti yang diakui oleh Syeikh Haji Muammad Rukib Sa’in adalah, bahwa beliau tidak memperoler izin untuk melantik murid penerus dan mendirikan rumah ibadah suluk. Sedangkan predikat yang diperoleh oleh DR.Syeikh Salman Da’im berbeda.

Murid yang terakhir dilantik dengan gelar syeikh adalah DR.Syeikh Salman Da’im pendiri pondok pesantren “Darus shofa li ahli wafa” bandar tinggi kabupaten simalungun sumatera utara. Di era tahun 1980 DR.Syeikh Salman Da’im di sekitar daerah beliau berdakwah masyarakat lebih akrab mengenal beliau dengan “Khalifah Da’im”.

Kalifah da’im yang saat ini lebih akrab di indonesia dan manca negara oleh para pengikutnya maupun di luar pengikut baik dari kalangan ulama maupun masyarakat sebagai “Buya Salman Da’im” atau “Buya Bandar Tinggi”.

Para pengikut DR.Syeikh Salman Da’im tersebar dari propinsi Aceh Darussalam hingga tanah Papua baik dari kalangan masyarakat biasa, kalangan intelektual dan birokrat. Untuk kawasan Asia, para pengikut beliau tersebar hingga ke Hongkong dan sebagian besar Malaysia dan Singapura. Bahkan dengan sangat hormat para ulama Turki mengundang ke negara mereka dan DR.Syeikh Salman Da’im memiliki banyak pengikut dari negara Turki. Saat ini hampir 2000 orang pengikut beliau telah dilantik oleh beliau dengan gelar  khalifah dan mengajarkan ilmu tasawuf keseluruh dunia. Amerika dan Eropa adalah sebagian kecil dari negara yang menjadi kawasan dakwah para pengikut beliau.

Bahwa tidak dapat dipungkiri bagaimana stigma agama islam saat ini dengan isu terorisme yang terlanjur menjadikan sebagian masyarakat non muslim menjadi islam phopia. Tetapi fakta lain bahwa kebenaran tersebut lebih terkait dengan infiltrasi politik yang menjadikan agama sebagai alasan untuk mendoktrinasi bahwa islam adalah agama yang berbahaya. Ini adalah pesan media masa yang sebenarnya tidak seimbang khususnya di media sosial yang sumbernya tidak terkonfirmasi dengan tingkat validasi yang akurat. Fenomena bahwa media sosial adalah sumber berita HOAX yang saat ini lebih mendominasi sumber informasi bagi sebagian masyarakat dengan mobilitas tinggi.

Meskipun pengikut tuan guru bandar tinggi DR.Syeikh Salman Da’im berasal dari kalangan masyarakat kelas menengah ke atas dan sebagian mereka adalah pengusaha di kota metropolitan yang memilki akses ke media masa digital, tidak membuat beliau menjadi ulama yang populer sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini. Padahal beliau memiliki beberapa sarana pendidikan formal yang legal seperti di propinsi Riau terdapat pondok pesantren Darussofa di kecamatan kandis yang saat ini dipimpin oleh putra beliau Dr.Syeihk Muda Anwar Sazali al-kholidi.Mpd dan masih banyak ditempat lainnya. Beberapa putra beliau yang semakin eksis berdakwah di luar popularitas sebagai  ulama antara lain, Dr.Syeikh Muda Muhammad Nur Ali A-kholidi.M.Hum. di Marindal kota Medan, Syeikh Muda Munawar Kholil Al-kholidi.S.th.I,.dan beberapa putra yang lain juga di Riau.

Sebagai seorang ulama yang mengajarkan kaidah ilmu fikih,ilmu usul, tasawuf dan ilmu tarekat ini memilki sejarah panjang sebagai seorang murid yang mengabdi kepada seorang guru tarekat ketika masih berusia kurang dari 20 tahun. Diantara guru-guru tempat beliau belajar antara lain Syeikh Muhammad Daud, Syeikh Muhammad Ali (Mbah Ali) dan Prof.DR.Syeikh Haji Jalaludin. Beliau belajar tarekat Sazaliyahdan tarekat-tarekat lainnya yang bermahzab kepada ke-4 imam besar yang menjadi rujukan ulama-ulama di seluruh dunia dan juga dari imam Ja’fari.

Saat ini DR.Syeikh Salman Da’im sangat fokus mengajarkan ilmu tarekat naqsyabandiah al-kholidiyah yang terkenal dengan 17 tingkat mata pelajaran melalui metode pembersihan hati (suluk). Di usia beliau yang hampir 80 tahun ini, beliau masih aktif mengajar langsung ke masyarakat dan hampir setiap saat berkeliling nusantara dan manca negara untuk berdakwah. Bahwa pesan beliau yang sangat menentang aksi terorisme meskipun luput dari pemberitaan media adalah
“ jalan yang baik dari banyak jalan yang telah tersedia untuk menangkal faham radikalisme dan tindakan terorisme adalah membersihkan hati dari prasangka buruk”. Pesan ini yang menjadi pegangan dakwah para pengikutnya kemana pun mereka berdakwah. Pegangan kuat sebagai dasar ilmu yang beliau ajarkan adalah al-qur’an dan hadist.

Sempat beberapa kali salah satu pengikut beliau yang mendapat izin mengajarkan tarekat naqsyabandi dari beliau di kabupaten kepahiang propinsi bengkulu dalam penyelidikan kepolisian negara republik indonesia dalam tugasnya menagkal faham radikalisme. Beberapa kali pengikut beliau tersebut diinterogasi oleh pihak berwenang dalam tugas penyelidikannya dan mempertanyakan pendapatnya tentang “jihad” dan kaitannya dengan “terrorisme”.

“Apakah tarekat naqsyabandi mengajarkan tentang jihad ?”.
Tarekat naqsyabandi (islam)pasti mengajarkan tentang jihad karena itu adalah perintah dalam al-qur’an dan hadist. Tetapi tarekat naqsyabandi tidak mengajarkan radikalisme karena itu tidak ada perintahnya dalam alqur’an dan hadist.
“Bagaimana bisa mengajarkan tentang jihad tetapi tidak mengajarkan tentang radikalisme ?”
Karena jihad dan radikalisme adalah sesuatu yang berbeda. Jihad adalah berperang dengan landasan moral (adab) dan tidak dibenarkan menganiaya orang lain sedangkan radikalisme adalah berperang dengan landasan nafsu serakah pada tujuan untuk mencapai tujuan dengan cara yang kejam.
“Bagaimana memahami tentang aliran sesat,jihad dan radikalisme dalam satu bingkai yang utuh”.
Untuk memutuskan apakah suatu faham itu sesat atau tidak tentu harus mengambil rujukan dari berbagai sudut pandang ilmu secara utuh,lengkap dan sah.
Bahwa al-qur’an, dari 6666 ayat yang ada di dalamnya tidak ada satu ayat pun yang menyangkal ayat yang lain. Setiap ayat mendukung ayat yang lain secara utuh. Maka dapat dipastikan jika kurang satu huruf saja dalam al-qur’an tentu akan melahirkan faham yang salah secara keseluruhan. Logikanya adalah jika kurang satu huruf maka makna dalam satu ayat menjadi salah. Dan jika satu ayat salah maka, akan salah pesan yang disampaikan dalam satu surat. Jika satu surat telah dipahami dengan salah maka dapat dipastikan akan salah memahami satu kitab secara utuh dan sempurna. Resikonya adalah menjadikan penerimanya menyimpang dari pesan sebenarnya yang tertulis dalam kitab al-qur’an.
Contoh sederhana tentang hukum “Qisash”.
Apakah negara republik indonesia menentang hukum qisash dan hukum yang berlaku saat ini disebut hukum setan “Thoqut”. Kita harus mencerna terlebih dahulu bahwa perintah qisash (bunuh balas bunuh” . pesan hukum qisash di ujung penjelasannya adalah
 “..... tetapi apabila walinya memaafkannya, maka sungguh itu lebih baik”.
Bayangkan bagaimana halusnya pesan moral ketika Allah menguji hambanya tentang “anda berhak membalas kematian saudara anda dengan membunuh pembunuh saudara anda. Tetapi jika anda memaafkannya sungguh itu lebih baik (pahala atau kebajikan di sisi Allah). Maka jika pesan yang tertera di akhir surat tersebut tidak ditaati, maka inilah yang disebut sebagai tindakan “radikal”. Bagaimana mungkin orang beriman memiliki rasa dendam sehingga harus membunuh pembunuh saudaranya. Sederhana bukan ?.

Cuplikan di atas adalah pokok pelajaran yang diajarkan oleh DR.Syeikh Salman Da’im dalam dakwahnya sebagai ulama internasional yang memang tidak populer di media masa digital.

Label:

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.