Era Perang Digital Sebagai Basis Ekonomi di Era MEA




Era perkembangan bisnis sejak dotcom lahir kemuka bumi telah bergeser sangat jauh. System bisnis yang terganjal masalah waktu dan jarak menjadi lebih singkat dan hemat. Maka wajar jika era perang fisik di masa lalu juga telah berubah menjadi perang digital. System penjajahan satu Negara terhadap Negara lain dengan alasan ekonomi yang meluluh lantakkan berbagai fasilitas fisik bahkan manusia serta komponen lain didalamnya juga berubah. Tetapi apakah penderitaan perang telah berakhir. Jawabnya belum. Kerana perang digital sebenarnya jauh lebih hebat dan menimbulkan degub jantung sangat keras bagi yang sadar melihat realita tersebut. Yang menjadi pertanyaan besar bagi Negara atau bangsa yang sedang terjajah secara digital adalah kapan mereka sadar untuk bangkit dan memproklamasikan kemerdekannya. Para Negara-negara dengan sumber daya kuat dari sisi penemu, penyedia, dan penguasa basis digital adalah seperti sebuah Negara pemilik teknologi nuklir. Dengan teknologi tersebut sebuah Negara dapat mereka kendalikan hanya lewat layar monitor kemudian dengan sangat cepat kekayaan Negara tersebut mengalir ke Negara penguasa teknologi tersebut.

Sebuah Negara harus sadar bahwa sewaktu-waktu negaranya akan lumpuh secara fisik jika satu tindakan saja dilakukan oleh Negara penguasa layanan teknologi tersebut. Satu contoh kecil adalah. Jika satu hari saja sebuah perusahaan raksasa internet seperti google dan firefox mengunci Indonesia atau Negara kecil lainnya agar tidak dapat mengakses situs mereka. Dapat dibayangkan seberapa besar dampak kelumpuhan ekonomi Negara ini. Tidak ada satu fisik pun warga Negara yang terluka oleh peluru atau pecahan mortar. Tetapi secara mental korbannya akan sangat depresi dan dapat dibayangkan hal-hal lain yang akan ditimbulkan. Artinya bahwa perang digital adalah perang urat syaraf. Bayangkan jika satu hari saja anda tidak dapat menggunakan layanan “gmail”. Akan seperti apa lumpuhnya bisnis anda. Apakah mereka mampu melakukan itu. Tentu saja, kekayaan mereka sedemikian besar demi sebuah ego politik yang berdampak secara ekonomi keseluruhan maka kerugian mereka satu hari dengan menutup akses ke Negara tertentu bukanlah suatu masalah yang besar. Karena secara sensitive lawan mereka akan hancur secara mental.

Pemain pasar bisnis layanan internet terbesar yang berbisnis layanan mesin pencari hanya sebagian kecil dari total perusahaan dunia yakni: google, yahoo, bing. Google adalah yang paling besardan digunakan diseluruh Negara di dunia.milyaran individu dan korporasi menitipkan sebagian data kekayaan mereka di situs tersebut. Artinya google sudah menjelma sebagai sebuah Negara kapitalis online. Negara jajahan mereka yang bertekuk lutut adalah hampir seluruh Negara di dunia. Beruntungnya google adalah seperti sebuah individu yang jujur dan transparan serta jauh dari indikasi korupsi. Tetapi realitanya Negara kita adalah jajahan sebuah Negara besar yang menguasai google.

Tentu dapat diperhitungkan berapa waktu yang dihabiskan untuk menambang batu bara atau minyak bumi agar memiliki nilai ekonomi dan kuntungan yang diharapkan. Dan sandingkan hanya berapa detik google mendapatkan nilai akhir yang sama. Tidak bisa dipungkiri bahwa perang digital adalah sandaran utama perekonomian sebuah Negara. Di mana posisi Indonesia dan Negara-negara lainnya. Khususnya Indonesia adalah wilayah teritori yang bedaulat secara hukum formal tetapi terjajah dari sudut pandang ekonomi digital. Pengguna internet yang terus tumbuh dengan tersedianya alat-alat komunikasi dengan fitur canggih dan harga murah adalah ladang subur untuk perusahaan raksasa internet dunia menancapkan kekuasaannya. Bagaimana agar sebagian masyarakat Indonesia turut menikmati kekayaan penguasa digital tersebut. Tentu dengan cara membuat kesepakatan-kesepakatan tertentu seperti apakah mereka harus membuka pabrik-pabrik perangkat keras dan perangkat  lunak mereka di Negara Indonesia dan Negara-negara pengguna lainnya. Bayangkan jika seluruh aplikasi perangkat keras dan perangkat lunak pun diproduksi di Negara penguasa. Maka sama artinya Negara ini menanam beragam tanaman dan menggali sumber daya alam berupa tambang mineral, kemudian menjualnya dengan harga murah ke Negara penguasa dan hasilnya digunakan untuk membeli perangkat alat telekomunikasi buatan Negara penguasa. selanjutnya untuk mendapat layanan lanjutan harus membeli paket data yang mereka sediakan dengan harga mahal. Artinya bahwa sumber daya kekayaan ini akahirnya mengalir sepenuhnya dan terkumpul di rekening penguasa teknologi digital tersebut.

Dilain pihak mental sebagian besar masyarakat muda Indonesia adalah mental recehan. Terlalu sedikit untuk mau berpikir secara eksplor. Menempuh pendidikan formal dan menjadi pegawai-pegawai pada jawatan pemerintah kemudian bangga dengan besaran upah yang mereka terima sebagi buruh pemerintah. Mereka berbelanja layaknya masyarakat “high class “dengan menggunakan perangkat komunikasi dengan merek internasional seperti “ Apple” dan yang setara dengan itu. Menggunakan berbagai layanan jejaring sosial dan bersikap serba mobile. Padahal mereka tidak sadar hanya kaum jajahan yang sedang diperah untuk dinikmati susunya di Negara lain. Kenderaan mereka bermerek serba asing yang disediakan oleh Negara melalui dinas-dinas tempat mereka berkerja sebagai buruh dengan stempel PNS. Sangat tegas dalam era perang digital yang bersandar pada internetisasi sebagian besar kita adalah tawanan perang yang tidak pantas mengucapkan kata “ tidak” dan harus memandang takzim kepada penguasa digital tersebut. Negara besar itu salah satunya adalah google. Anda dan kami pada posisi yang sama saat ini. Ketergantungan terhadap layanan internet adalah harga mati.

Dua buah hati dapat dipersatukan dan sebuah tatanan keluarga yang sangat baik bisa terpecah belah dalam sekejap karena internet. Kemudian kapan Indonesia dapat menyediakan basis data yang besar sebesar google untuk rakyatnya. Atau seperti singapura yang kaya hanya karena Negara tersebut menjadi transit data. Sementara Indonesia hanya sebagai pengguna data.




Label:

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.