Online Shop akan Menjadi Tren Bisnis MEA




Berbicara bisnis diera masyarakat ekonomi asean (MEA) adalah berbicara pertumbuhan yang diukur dari nilai efisiensi. Indonesia telah masuk pada era MEA dan menurut founder partai Nasdem bapak Surya Paloh bahwa sekarang sama sekali tidak tersedia ruang negosiasi apakah Indonesia akan sepakat atau tidak turut menjadi peserta dalam program MEA. Saat ini Indonesia telah benar-benar masuk dan berdiri sama tinggi dalam MEA. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana masyarakat Indonesia siap dalam melakukan usaha bisnis dalam era MEA.

Indonesia memiliki segala sumber daya alam yang dapat dijadikan tumpuan daya saing ekonomi. Tetapi jika sumber daya manusia (SDM)nya rendah tentu Indonesia hanya akan menjadi ladang subur tempat Negara lain bercocok tanam dalam segala lini bisnis. Dan mayarakat pribumi akan kembali menjadi buruh-buruh rendahan seperti era penjajahan atau era kapitalis. Yang menjadikan sikap pesimin adalah mental para pemuda Indonesia yang sebagian besar masih fanatic terhadap hal-hal yang bersimbol asing. Seperti penggunaan merek-merek barang elektronik dan sebagainya. Padahal tidak dapat dibantah pemuda Indonesia banyak yang memiliki kemampuan akademik sangat baik untuk menciptakan beragam produk digital dan sebagainya. Tetapi mental korupsionic para pemangku jabatan menjadikan daya guna putra-putra terbaik Negara ini tidak terakomodir dan sebagai tindakan atas ke tidak benaran tersebut mereka memilih mengembangkan bakat keilmuannya ke Negara lain. Kalaupun mereka berkarya di dalam negeri , mereka tidak berdiri sendiri tetapi menompang perahu perusahaan asing.

Sebenarnya sangat banyak produk-produk dalam negeri dengan merek dagang dalam negeri dengan kualitas yang bahkan mungkin lebih baik dari produk asing. Khususnya dunia digital, berbagai merek dan varian alat telekomunikasi seperi telepon seluler, komputer dan bahkan aplikasinya adalah buatan anak bangsa. Tetapi citra high style yang terlanjur menjadi candu bagi mental sebagian besar bangsa Indonesia menjadikan penggunaan merek-merek dalam negeri seperti anak tiri dalam pasungan. Padahal jika ada edukasi yang bersifat kontiniu dan sporadic tentang penggunaan alat-alat digital buatan Indonesia tentu merek-merek dagang tersebut akan menjadi lambing kebanggaan yang sangat tinggi. Terbukti untuk alutsista. Indonesia bahkan mampu mengekspor hingga ke Negara Mali. Artinya dunia mengakui kualitas fungsi dari buatan Indonesia.

Khususnya menyoroti produk telepon seluler dan sejenisnya. Beberapa produk dengan bermacam merek dalam negeri jika benar-benar kita kita periksa masih sangat sulit untuk menemukan telepon seluler dengan “buatan Indonesia “. Sementara telepon seluler yang ada di pasaran Indonesia dengan kualitas dan fungsi yang sama dengan merek-merek besar rata-rata adalah buatan “ China”. Mengapa China mampu menjual telepon seluler dengan kualitas baik tetapi harga murah. Karena di Negara tersebut produk telepon seluler maupun komputer telah menjadi produk home industry. Sepertinya hal ini belum terjadi di Indonesia.

Kembali ketopik di atas. Rilis beberapa berita di situs-situs internet bahwa kemungkinan besar China akan fokus membuka layanan online shop di Indonesia. Sudah dapat diprediksi. Layanan mereka tentu akan sangat jauh lebih baik dan kompetisi harga yang mereka tawarkan jauh lebih murah. Kemudian didukung dengan teknologi internet yang super canggih dan investasi yang sangat besar. Dapat diperhitungkan akan berada di posisi berapa Indonesia berada. Sementara masyarakat telah terhipnotis dengan sangat baik sebagai konsumen dengan berbagai doktrin.

Maka yang harus segera disadari adalah putra-putra Indonesia bersatu untuk membuat sesuatu apakah sebuah perusahaan layanan internet berserta perangkat-perangkat pendukungnya. Membuat merek telepon seluler yang seluruh komponen perangkat keras (hardware) dan perangkat lunaknya (software) buatan sendiri dan memiliki patent sendiri. Jangan malu jika usaha tersebut berbasis UKM yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah tanpa melibatkan oknum korupsionic. Membuat system birokrasi yang mudah untuk anak-anak bangsa. Investasi harus dibangun dari dalam bukan mengundang konglongmerat asing dengan member fasilitas kemudahan dalam perizinan. Itu sama saja dengan menyuntikan zat-zat aditif kepada anak bangsa agar bisnisnya mati perlahan-lahan tanpa pembunuhnya merasa dibebani dosa.

Mari lihat kabar terbaru tentang rencana pembukaan kantor cabang baru eBay di Jakarta yang mewakili Indonesia . artinya struktur kemandirian online shop buatan anak-anak Indonesia yang masih sangat rapuh dan tidak memiliki ikatan manajement yang kuat tentu akan tergerus habis dan mati bersama impian mereka. Indonesia memiliki kebanggaan terhadap bukalapak.com . tetapi buka lapak hanya gurem di tengah sekam jika diukur dari betapa besarnya Indonesia dan lulusan sekolah-sekolah bisnis terbaik dan para lulusan sekolah intrepreneur yang ada di Negara ini.

Bahwa online shop akan menjadi tren bisnis di era MEA adalah sebuah fakta. Dan beberapa hal telah dilakukan bahwa tender sebuah proyek pun dilakukan secara online layaknya online shop. Dengan online shop siapa pun pelaku usaha tersebut dapat berdagang dengan potensi pasar yang luas dan lintas batas. Mereka mendapatkan profit dari banyak sudut. Bahkan dari layanan server itu sendiri. Sementara sebagian sangat besar dari penduduk Indonesia akan menghabiskan kekayaannya yang terbatas untuk membayar biaya layanan data apakah melalui aplikasi android dan lainnya. Kemana serpihan-serpihan uang receh tersebut mengalir?. Ke China, Malaysia,Singapura dan kenegara-negara lain yang menyediakan layanan server yang mungkin sekaligus sebagai pemilik online shop raksasa seperti amazone.com .
Beberapa pelaku bisnis perorangan juga tergerak membuka berbagai toko online berbasi jejaring sosial seperti facebook. Setidaknya kita selangkah bersyukur atas kemauan mereka memanfaatkan teknologi untuk efisiensi bisnis UKM tersebut. Tetapi sitem transaksi per aksi secara tidak sadar telah menguras sebagian sumber daya kekayaan mereka yakni berapa biaya yang harus dibayarkan kepada facebook setiap mili detiknya.

Coba jika seluruh online shop yang khusus milik putra-putra Indonesia bersatu padu membuat sebuah badan usaha yang menyediakan seluruh perangkat sendiri kemudian menggunakannya secara bersama-sama. Diakhir perhitungn seluruh keuntungan bersih dari jasa sewa server atau yang berkaitan dengan itu dibagi kepada seluruh yang tegabung didalamnya sebagai bentuk dividen. Tentu sirkulasi uang yang beredar akan tetap berada dalam satu lingkaran yang akan tumbuh semakin besar. Tetapi siapa yang akan memotori ini. Sementara pendidikan intrepreneurship baru menyentuh di wilayah kota-kota besar. Maka dinas-dinas pemerintah terkait harus segera meninggalkan meja aman di kantornya dan turun ke jalan member pendidikan-pendidkan bisnis yang kuat dan akurat. Jangan sampai setelah menyelesaikan pendidikan hanya dipersiapkan untuk menjadi kacung pada perusahaan-perusahaan teknologi asing bahkan dengan posisi yang tidak penting.

Indonesia memiliki kaskus.com, indonetwork,dan sejenisnya. Tetapi masyarakat masih lebih melek facebook  atau blackberry messenger secara fanatik . bahkan untuk wilayah-wilayah tingkat kabupaten dan propinsi di luar jawa masih asing dengan kaskus sebagai karya anak bangsa.

Interaksi bisnis global dan perkembangan tren online shop adalah salah satu tulang rusuk perekonomian Indonesia. Produk digital dan perangkat lunak juga demikian. Apalagi isu yang telah santer beredar bahwa Indonesia adalah lahan yang sangat berpotensi untuk pembangunan dan perkembangan “ silicon valley”. Sedikit saja bangsa ini lengah tentang potensi dan tren online shop dalam MEA maka Indonesia hanya akan menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) produk asing. Sementara kita memiliki potensi dan mampu berbuat lebih baik. Indonesia memiliki perkebunan dan sumber energy yang besar serta potensi sumber daya manusia dengan kecerdasan dan ide-ide besar. Indonesia memiliki jutaan habibi muda serta Indonesia juga memiliki jutaan Djoyohadikusumo yang mampu berdiri anggun di tengah medan bisnis. Padahal online shop di era MEA adalah gagasan kecil tetapi member dampak kehidupan yang kuat dan strategis.



Label: ,

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.