Persepsi kopi dan pil pahit bagi kopi redjang






Kembali berbicara tentang kopi adalah berbicara tentang persepsi dari sudut pandang bisnis dan aspek-aspek yang membentuk lajur tren spesifik tentang sebuah produk kopi. Bahwa secara garis besar berbisnis tentang kopi adalah menentukan rencana dasar apakah bisnis akan dibangun berdasar tren yang sudah berkembang,melawan arus atau menciptakan tren sendiri.apakah semata-mata menjadi pedagang kopi dengan menentukan target profit berdasar hitungan matematika atau sebagai bisnis tren yang memotivasi dengan target tidak hanya sekedar pada nilai profit, tetapi lebih dari pada itu yaitu menjual citra.
Hasil survey yang dilakukan juga memiliki metode yang berbeda dan target waktu untuk mengambil keputusan serta biaya yang harus dikorbankan juga berbeda. Membangun citra tentang sebuah produk yang memiliki target premium tentu rentang waktu, uji coba produk,dan hal-hal lainnya jauh lebih sulit karena tidak sekedar meletakkan pada akurasi hitungan data. Berbagai kemungkinan terjadi dan tantangan marketnya juga berbeda. Saat kopi luwak kemudian menjadi tren sehingga variasi harga penawaran yang sangat fantastis yang tidak lagi dihitung menggunakan rumus umum seperti harga pokok produksi untuk mementukan harga pokok penjualan bukanlah lahir secara serta merta. Berbagai riset dan menentukan spesifikasi khas dari rasa tersebut serta membangun citra kopi luwak juga membutuhkan waktu yang sangat panjang dan berliku, dari persepsi ini adalah produsen bukan sekedar menjadi pedagang kopi, tetapi sebagai pedagang kopi berdasarkan citra atau tren.
Kopi redjang juga melakukan berbagai survey kepada para penikmat kopi dari mulai kalangan masyarakat bawah. Beragam persepsi tentang kopi akan terlihat, mereka yang mengkonsumsi kopi tetapi tidak mengenal kopi secara utuh mereka adalah target pasar dari para pedagang kopi yang terlibat di pasar perekonomian. Penilaian mereka tentang rasa sebuah kopi tidak benar-benar muncul dari kualitas rasa kopi tetapi dari alam bawah sadar yang disuntik tentang merek tertentu secara terus-menerus. Sehingga sangat wajar jika para pengkonsumsi kopi belum tentu seorang penikmat kopi bahkan pecinta kopi. Persepsi umum tentang kopi hitam adalah setiap bubuk yang berwarna hitam dan beraroma kopi adalah kopi. Meskipun persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah. Pada tingkat kelompok ini, mereka adalah pengkonsumsi kopi. Mereka tidak peduli seperti apa bahan baku kopi tersebut, apa manfaatnya dan apakah ini memberi gambaran tentang gaya hidup seseorang. Meskipun pujian enak atau tidak itu adalah hal yang relative. Tetapi relative juga memiliki batas kelas dan tingkat spesifikasi.
Kemudian adalah mereka yang masuk pada kelompok kedua adalah mereka pengkonsumsi kopi sekaligus penikmat kopi. Indra penciuman dan pengecapan mereka tentu juga berbeda dengan kelompok yang pertama. Mereka telah memahami karakter khas tentang sebuah rasa. Panca indera mereka peka terhadap apa yang diterimanya. Ketika mereka memuji sesuatu mereka memuji dengan pengetahuan yang cukup dan bersedia memberi kritik denga jalan keluar yang baik.
Selanjutnya adalah mereka yang masuk kelompok premium. Ini adalah kelompok pecinta. Mereka mengkonsumsi dan menikmati dengan cinta. Indera bathin mereka sangat sensitive ketika seseorang menyinggung tentang apa yang dicintai apakah itu sebentuk pujian atau sebaliknya. Pada kelas ini cinta mereka bukan fanatic buta yang terbentuk dari dorongan emosional, tetapi lahir dari kesadaran yang amat lemah lembut. Pengetahuan dan pengakuan mereka bukan tercipta dari sebuah doktrin yang dipaksakan. Dan mereka bukanlah target dari pedagang kopi secara umum. Dan harga yang tidak rasional berdasarkan rumus bukan alasan untuk mereka mengkalkulasi ulang tentang apakah cintanya akan ditangguhkan. Pada tingkat mereka, kontribusinya bukan sekedar sebagai penikmat pasif. Tetapi justru jauh lebih peduli untuk menilai karakter detil dari kopi yang dicintainya.
Kembali kepada persepsi, kopi redjang melakukan penawaran ini kepada calon konsumen dan memulainya dari kelompok pengkonsumsi kopi, sebagian besar mereka menilai sesuatu dan mengambil keputusan berdasarkan tren yang dibentuk dengan slogan-slogan yang sangat kuat dan padat.
Sebagai ilustrasi, di beberapa kesempatan termasuk di Jakarta kami membawa kopi bubuk yang menurut hemat kami berdasarkan pengakuan lisan mereka mereka adalah penikmat kopi dari kalangan masyarakat menengah. Untuk menguji produk kami berdasarkan penilaian mereka bahwa sebaiknya produk ini dari sisi tekstur,kualitas rasa dan aroma layak mendapat penilain seperti apa dan jika disejajarkan dengan produk yang telah menjadi tren saat ini sebaiknya seperti apa, jawaban spesifiknya juga masih belum tegas. Sehingga kami tidak dapat memutuskan berdasar tren, produk kami akan menjadi objek bisnis atau sekedar objek pasar. Beberapa dari mereka adah para consultant bisnis professional ternama yang mengaku sebagai pecinta kopi ternyata sudut padang mereka masih berkutat pada teori HPP.
Dengan ragam persepsi yang kami catat sebagai acuan kami berkesimpulan sementara bahwa produk dari daerah kami ternyata belum bisa memperbaiki perekonomian daerah penghasilnya. Kesimpulan kami juga adalah bahwa teori para konsultan bisnis tidak lebih dari sekedar mengarahkan produk kopi dari dataran tinggi tanah suku rejang kabupaten kepahiang propinsi Bengkulu hanya layak sebagai objek pasar. Akhirnya impian masyarakat yang sebahagian dititipkan pada kami belum mampu kami wujudkan saat ini. Bahwa hal penting lainnya adalah rekomendasi dari seorang Q-Grader sekalipun belum mampu mengubah persepsi para konsultan bisnis yang kami anggap jauh lebih faham kemana sebaiknya produk ini dipasarkan. Kesimpulan akhir adalah biaya riset yang sangat mahal,biaya survey kualitas rasa dan cita rasa khas yang sangat mahal dengan tujuan mulia dari para konseptor kepahiang selalu terganjal untuk mewujudkannya.
Tetapi kami sangat berharap kami dapat menemukan orang-orang yang tepat untuk membantu kami.agar kami menemukan pecinta kopi sejati yang dapat membantu memuliakan para petani kepahiang,mensejahterakannya.karena pecinta kopi adalah mereka yang sadar secara indrawi,secara bathiniah dari mana dan seperti apa perjalanan secangkir kopi yang dia nikmati. Mereka fanatic secara sadar bahwa kenikmatan lahir dari sejuta jerih payah, sehingga mereka menjunjung tinggi dan menghormati jerih payah para petani kopi. Mereka menjadi sahabat dekat para petani ketika petani melakukan sebuah kesalahan yang mungkin dianggap tidak terlalu penting oleh sebagian besar orang. Pecinta kopi adalah penasehat karib terindah bagi petani kopi agar kualitas kopi yang mereka hasilkan menjadi sangat premium agar tidak ada kesempatan sedikitpun untuk memberi noda pada cinta mereka. Sehingga penghargaan para pecinta kopi adalah penghargaan penuh kepada alam dan pengelolanya dan untuk memberikan imbalan moril dan materil tidak sekedar pada landasan kalkulasi teori bisnis pedagang asongan.  Kami tulis ini di Jakarta pada pukul 00.58 wib/22-06-16 di akhir perjalanan survey dan ketika ternyata konsultan bisnis tempat kami berkonsultasi hanya berorientasi pada ekonomi terbatas , bukan seperti apa yang kami harapkan. Besok kami akan kembali ke Bengkulu dan tetap bermimpi untuk tidak menjadikan kopi dari dataran tinggi tanah suku rejang sekedar sebagai objek pasar. Tetapi, harus menjadi salah satu objek bisnis. Agar petani kami sejahtera dan mulia.

Label: ,

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.