SEJARAH SINGKAT KOPI REDJANG KABUPATEN KEPAHIANG



1.Sejarah Singkat Kopi Redjang
Kopi redjang adalah sebuah merek produk bubuk kopi yang lahir dari sebuah ide besar beberapa orang yang berada dalam satu kelompok tani “MULTIKA BINA AGRI” di kabupaten kepahiang pada tahun 2015 yang lalu.
Latar belakang dari ide tersebut terinspirasi dari keadaan para petani kopi di kabupaten kepahiang yang secara ekonomi keadaan mereka semakin memburuk dari waktu ke waktu. Berdasar analisis akademik yang dilakukan oleh para penyuluh pertanian kabupaten kepahiang yang pada umumnya berasar dari lulusan universitas negeri bengkulu dan berlatar belakang anak dari keluarga petani kopi, saudara Eka Susiani. SP yang lulus dari fakultas pertanian spesifikasi ilmu tanah tahun 2003 ini, mulai menghitung secara ekonomi berdasar luasan rata – rata kebun per anggota keluarga dalam siklus satu tahun.
Secara analisis usaha dengan luasan lahan perkebunan 2 Ha per kepala keluarga seharusnya perekonomian setiap keluarga sudah di atas rata – rata baik. Padahal faktanya masing – masing perkepala keluarga memiliki luasan kebun hingga lebih dari 5 Ha. Setelah dilakukan perhitungan secara matematika ternyata pendapatan pertenaga kerja jika hasil kebun perhektar 1 ton green beans yang harga kisaran saat itu Rp.18.000 / Kg di harga petani. Maka asumsi rata – rata pendapatan mereka adalah Rp.18.000.000,/tahun. atau Rp.1.500.000/bulan. Sekitar Rp.50.000 / hari. Pendapatan tersebut belum dikurangi biaya operasional dan tenaga kerja lainnya. Bagi yang memiliki luasaan hingga 5 Ha berarti Rp.250.000/hari. Itu cerita masa lalu.
Berdasar perbandingan pertumbuhan jumlah penduduk. Jika 1 keluarga memiliki 4 orang anak. Maka luasan kebun mereka dimasa depan harus dibagi 5 bagian. Jika hanya memilki 1 Ha, maka luasan kebun perorang hanya 0,20 Ha. Dengan acuan harga tersebut diatas maka Rp.18.000.000/5 kemuadian setelah 10 tahun terjadi pertumbuhan harga hingga 100 %.maka akumulasi pendapatan menjadi Rp.36.000.000/5 (0,20 Ha/orang) bagian menjadi Rp.Rp.7.200.000/12 sama dengan Rp.600.000,-/bulan. Atau Rp.20.000,-/hari. Terdapat margin lost Rp.30.000,-/hari.
Artinya pendapatan kotor perpemiliki kebun hanya Rp.20.000,-/hari. Sementara fakta lapangan bahwa kenaikan harga hasil perkebunan kopi tidak sampai 2 % kenaikannya pertahun. Berarti  hanya 20 %/10 tahun. tentu ini lebih parah dari apa yang diperhitungkan. Rp.18.000.000 x 20 % = Rp.3.600, + 18.000,- = 21.600,- .
Berdasar analisis tersebut maka lahirlah alasan dari pertanyaan yang selama ini terjadi dimasyarakat. Mengapa bengkulu termasuk daerah yang tertinggal padahal sumberdaya alamnya adalah komoditas incaran dunia. Ternyata alasannya adalah sistem manajement pertanian, tata kelola perdagangan dan yang terparah bengkulu tidak melakukan produksi hilir dari produk yang dihasilkan. Bengkulu tidak memiliki industri hasil pertanian.Sehingga bengkulu hanya mampu menjadi produsen bahan mentah yang masih sangat mentah tanpa proses pengolahan lanjutan untuk meningkatkan nilai jual produk pertaniannya.
Bersama rekan – rekan almamater dan suami kemudian mulai berdiskusi dan membuat wacana bahwa bengkulu harus memiliki produk olahan yang memiliki merek sendiri dan mampu bersaing dengan produk lainnya serta mampu menembus pasar retail moderen seperti mall dan supermarket lokal hingga luar daerah.
Sementara ide meerek sendiri terinspirasi dari kopi Gayo yang menjadi branding dataran tinggi kabupaten gayo dan suku gayo propinsi Nangroe aceh darussalam , kopi Toraja dari suku toraja sulawesi yang akhirnya terkenal dengan kopi torabika (toraja arabika), kopi mandailing dari sumatera utara yang mewakili suku mandailing dan sebagainya. Merek kopi bengkulu harus mewakili entitas lokal. Maka lahirlah merek “kopi Redjang”. Dengan tidak mendiskreditkan suku lainnya di bengkulu, setidaknya kopi redjang adalah pengewajantaahan  dataran tinggi propinsi bengkulu untuk mewakilinya di kancah dunia. Sehingga produk bengkulu memiliki merek khas yang menggambarkan daerah asal merek tersebut.
Dengan modal yang terbatas akhirnya kopi redjang mulai berproduksi menggunakan mesin roasting buatan CV.Mesin Jatim dengan kapasitas 20 Kg/jam yang dibeli dari Malang seharga Rp.18.000.000,- .
Kopi redjang telah memilki izin edar resmi dari kabupaten kepahiang dan izin kesehatan secara legal serta siap masuk pasar. Sebelum resmi masuk pasar kopi redjang memutuskan untuk memasarkan menggunakan badan usaha resmi agar lebih mudah diterima oleh pasar retail moderen. Maka kopi redjang di pasarkan menggunakan badan usaha persekutuan komanditer CV.NAQSA GOLDEN EXOSITE. Dan saudara Budiono berdiri sebagai direktur perusahaan untuk masa jabatan 5 tahun.
Kopi redjang juga melakukan analisis pasar dan survey pasar selama 6 bulan sebelum memasarkannya secara lebih luas. Pada laporan bulan pertama kopi redjang membukukan omset Rp.52.500,- pada bulan Mei 2016. Dan saat ini telah berproduksi rata-rata 1 ton / bulan. Masih capaian yang sangat kecil dari target proyeksi yang ditentukan akibat kurangnya permodalan untuk membeli alat-alat industri moderen seperti mesin pengemas otomatis dan alat pendukung lainnya.
2.Tujuan usaha Kopi redjang
Kopi redjang memiliki proyeksi yang terukur dan jelas. Tidak semata hanya profit orientied, kopi redjang harus mampu menjadi branding produk unggulan daerah dan berdampak pada perekonomian dengan terbukanya lapangan kerja baru. Maka kopi redjang memiliki target penyerapan tenaga kerja daerah yang dapat mengurangi jumlah pengangguran terdidik di bengkulu. Dimasa depan kopi redjang optimis dapat meyerap tenaga kerja dengan persentase yang lebih besar dan luas. Saat ini salah satu mitra bisnis kopi redjang adalah CV.Sejahtera Abadi bengkulu yang fokus pada bagian pemasaran. Kopi redjang berkomitmen tidak akan memonopoli bisnisnya. Dan saat ini CV.Sejahtera Abadi Bengkulu adalah satu bukti bahwa pembagian dalam bisnis benar benar terbukti tidak memonopoli usaha. Kopi redjang siap bermitra bisnis dengan siapa pun.Setidaknya telah membantu pemerintah daerah untuk mengurangi lebih dari 10 orang tenaga kerja saat ini. Jumlah yang kecil, tetapi jika usaha sejenis dengan kapasitas yang sama berdiri di bengkulu sebanyak 20 unit usaha baru. Maka tersedia 200 lowongan kerja baru.
3.Sistem analisis usaha.
Dengan melihat perilaku pasar yang ada di bengkulu. Kopi redjang mengeluarkan berbagai varian produk dan kemasan. Kopi redjang mengeluarspesifikasi kemasan dengan 4 izin dinkes sekaligus. Yakni seri 11 untuk kemasan berbahan kaca, seri 21 untuk kemasan berbahan plastik, seri 31 untuk kemasan berbahan kertas dan seri 51 untuk kemasan berbahan alumunium foil.
Hal ini untuk membedakan jenis bahan baku yang di gunakan dalam produk dan membedakan klasifikasi market dan harga jual. Yang yang ungggul dari kopi redjang adalah produk kopi redjang tidak menambahkan bahan restitusi  (campuran seperti jagung atau lainnya)dalam produknya. Sehingga kopi redjang selalu membranding dirinya dengan tagline “ kopi redjang tidak menawarkan harga yang lebih murah atau lebih mahal dari produk kompetitor sejenis,kopi redjang hanya menawarkan harga yang wajar”. Kualitas produk adalah branding dari kopi redjang, bukan kuantitas profit.

4.Profitabilitas
Profit adalah tujuan sebuah usaha untuk tetap bertahan, berkembang dan tumbuh menjadi besar. Matematika kopi redjang dalam bisnis tentu membagi menjadi dua klasifikasi produk dan pasarnya. Dasarnya adalah untung sedikit dan banyak atau untung besar dan sedikit. Itu sebabnya kopi redjang membagi produknya untuk dua pasar yang berbeda. Yakni pasar retail dengan persentase profit hanya kisaran 7 % - 10 % per unit dan pasar premium dengan persentase profit kisaran 30 % - 35 %.



Tabel diatas adalah perhitungan HPP dari kopi redjang persatuan kilogram.
Dengan sangat tidak malu kami belajar dari bisnis perment yang mungkin keuntungan mereka hanya Rp.0,1/1 bungkus kecil permen. Jika jumlah penduduk indonesia 300 juta jiwa dan hanya 60 persen dari penduduknya mengkonsumsi 1 permen perhari. Artinya terdapat 180 juta permen terjual sehari.  Dan dengan keuntungan Rp.0,1 x 18 juta perment = Rp.18.000.000 /hari. Jika bisnis anda memegang 2 % dari total pasar maka keuntungan bersih yang rela ikhlas masuk rekening kita adalah Rp.360.000/hari. Atau Rp.10.800.000 / bulan. Fantastis, nilai Rp.0,1,- ternyata lebih besar dari gaji poko jenderal bintang emapat (maaf,bercanda dengan serius).
Itu sebabnya kami sangat confident mempresentasikan prosfek cemerlang dari usaha kami kesemua pihak dan meyakinkan pemerintah daerah bahwa kami bukan lagi anak tiri. Kami bahkan mampu duduk sama rendah berdiri lebih tinggi di masa depan. Terimakasih Harmoko Mustovo.SP

Label:

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.