Indonesia akan segera melaksanakan perhelatan besar dalam kontestasi politik beberapa minggu kedepan. Meskipun pelaksanaan resmi pilpres baru akan berlangsung di tahun 2019 mendatang, tetapi suasana hiruk pikuk telah memenuhi berbagai diskusi di masyarakat. Hal yang menjadi pembeda dari perhelatan yang sama di era lampau adalah, adanya media sosial digital yang berperan membangun opini dan mendistribusikan secara masal ke seluruh dunia. Ini sangat berbeda ketika hanya media surat kabar yang menjadi alat pendistribusi informasi. Hanya kalangan tertentu yang dapat menyampaikan informasi sepihak. Dan kontrol sosial menjadi lebih mudah dilakukan karena informasi yang didistribusikan lebih bersifat informasi sepihak. Apalagi dimasa lampau surat kabar dan media televisi hanya dapat diterima di kawasan yang tidak terlalu luas. Sejak menguatnya pertumbuhan layanan dan penggunaan internet, menjadikan informasi tersaji sangat cepat  hanya dalam hitungan per mili detik. Dimasa lampau, diskusi di rumah makan atau sekedar obrolan rakyat biasa di warung kopi tidak akan terdistribusi begitu luas. Tetapi, saat ini diskusi sederhana bahkan untuk informasi opini yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya pun (HOAX) dapat tersaji dalam waktu cepat.

Tetapi yang paling fatal adalah, tidak semua pengguna jejaring sosial adalah mereka yang mapan secara psikologi. Sebagian mereka hanya pengguna yang kritis secara emosional dan membuat tanggapan terhadap informasi secara tidak proporsional. Sebagai contoh sederhana, mereka yang mendukung salah satu pasangan calon yang akan melakukan kontestasi politik di tahun 2019 mendatang yakni Prabowo subianto – Sandiaga salahudin uno dengan # 2019 ganti presiden dan rival politiknya Joko widodo – Ma’ruf amin dengan #Jokowi2periode, akan bereaksi secara emosional tanpa memahami esensi informasi yang mereka terima atau tersaji di media digital.

Sekelompok pendukung fanatik masing – masing pasangan calon presiden ini secara membabi buta ketiaka menerima informasi yang seolah – olah menyudutkan tokoh yang mereka dukung, psikologi mereka hanya emosional yang berujung pada perang urat syaraf dan perang informasi palsu di media sosial yang bermuara pada penghinaan ke masing – masing lawan pendukung pasangan calon.

Sangat ironis, ini menjadi sasaran mudah bagi para penebar informasi palsu untuk membangun opini bagi masyarakat tentang tokoh yang akan diusung dalam kontestasi politik nantinya. Bahkan istilah “HOAX” menjadi senjata untuk memantik perseteruan antar pendukung di media sosial. Padahal secara gestur linguistik, masih banyak diantara pengguna jejaring sosial yang ikut terlibat dalam diskusi digital tersebut tidak benar – benar memahami apa yang mereka terima dan kemudian mereka distribusikan secara luas. Banyak diantara mereka menanggapi sebuah informasi fakta yang terkonfirmasi dengan tanggapan “HOAX” hanya karena informasi tersebut terasa tidak berpihak kepada tokoh idolanya. Atau setuju dengan sebuah informasi berita dari situs tidak resmi hanya karena berita yang disajikan memenuhi ekspetasi positif pada kandidat yang didukungnya.

HOAX selalu disadari oleh para netizen yang sebenarnya minim literasi publik ini adalah sebuah berita yang mengkritik kegagalan tokoh yang didukungnya. Dan menjadi bukan HOAX apabila narasi beritanya memuji tokoh tersebut. Padahal HOAX adalah informasi palsu yang didistribusikan melalui media internet tidak hanya karena berita tersebut sebuah kritik kegagalan, tetapi juga sebuah pujian keberhasilan yang tidak benar – benar terjadi. Sebagai salah satu contoh ketika sebuah media online melansir berita tentang kegagalan ekonomi dan kemudian didistribusikan melalui facebook, para pendukung pemerintah akan menanggapi ini adalah berita HOAX. Tetapi tidak mengkategorikan ini sebagai berita HOAX jika berita yang dilansir tentang “pemerintah sukses membangun jalan Tol lintas sumatera dari bengkulu ke lubuk linggau” dengan menyajikan foto bentangan jalan tol yang luas, panjang dan megah. Padahal ini juga dikategorikan berita HOAX, karena faktanya samapai berita tersebut disebar luaskan jalan tol tersebut tidak benar – benar ada.

Kembali lagi, bahwa dalam kontestasi politik di tahun 2019 yang akan mendaulat dua pasangan kandidat calon presiden republik indonesia Prabowo Subianto – Sandiaga Salahudin Uno  dan Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Para netizen yang tidak memiliki kemampuan analisis untuk beragam informasi publik di media sosial hanya akan menebarkan tambahan informasi sampah di media.

Beberapa hal penting perlu diajarkan kepada masyarakat pengguna internet. Setidaknya ini mampu mengurangi tingkat kesesatan informasi apakan berita tersebut palsu atau bukan, apakah informasi tersebut bersifat opini seseorang atau karya jurnalistik. Salah satu caranya adalah menginformasikan kepada masyarakat awam yang ikut berdiskusi aktif di media sosial bahwa, berita HOAX biasanya didistribusikan menggunakan url situs gratisan seperti blogspot atau wordpres.com , apakah isi dari situs pendistribusi adalah situs yang memiliki konten berita berimbang atau sengaja didesain untuk mendukung salah satu pasangan calon. Apakah termasuk domain TLD (top level domain) atau situs dengan domain yang terlalu asing bagi masyarakat.yang umum misalnya .com,.org,.gov. Apakah kalau menggunakan second level domain termasuk versi domain yang terdaftar menggunakan izin resmi atau bukan. Misal, .co.id,.or.id,.go.id.

Artinya, bahwa tidak seluruh pengguna jejaring sosial adalah mereka yang kaya akan literasi. Sebagian mereka justru para pendukung fanatik yang mudah terdoktrin oleh isu – isu atau justru tekanan lingkungan sehingga secara sugesti mereka akan memutuskan bahwa segala yang baik tentang tokoh dukungannya adalah berita prestasi yang memang harus diterima dengan sukarela oleh seluruh masyarakat. Dan segala berita yang buruk tentang tokoh pendukungnya adalah HOAX. Parahnya lagi, mereka terkadang tidak membaca tuntas serta memahami apa maksud yang terselip dalam setiap kalimat dari berita yang tersaji. Ketika ada satu kalimat yang seolah mengarah kepada merendahkan kandidat yang didukung maka akan langsung di justifikasi sebagai “HOAX”.