Ini Alasan Mengapa Bapak Bambang Asnadi Kembali Turun Ke Politik Praktis




Setelah dua periode ( 2004-2009 dan 2009-2014)mendedikasikan dirinya sebagai anggota legislatif di DPRD kabupaten kepahiang dari partai persatuan daerah (PPD). Pemuda asli suku rejang dari desa penanjung panjang kecamatan tebat karai yang berlatar belakang petani ini akhirnya bersedia untuk kembali turun ke gelanggang politik. Setelah absen berpolitik selama satu periode terakhir (2014-2019) akhirnya beliau bersedia turun kembali menggunakan perahu politik yakni partai nasional demokrat (Nasdem) untuk periode 2019-2024.

Dalam sebuah bincang-bincang ringan di kediaman beliau ternyata alasan beliau untuk kembali turun ke gelanggang politik sebagai anggota legislatif adalah karena prihatin terhadap  daerahnya khususnya kecamatan tebat karai dan beberapa kecamatan yang satu dapil yang kurang mendapat perhatian khusus karena tidak memiliki wakil di DPRD. Sehingga banyak aspirasi masyarakat tidak pernah sampai ke pemerintah. Dan hal yang sangat membuat beliau prihatin adalah banyak kepentingan-kepentingan politik yang mengabaikan aspirasi dari dapil yang tidak memiliki wakil di lembaga legislatif.

Secara kasat mata hampir seluruh program bantuan industri hanya terkonsentrasi ke wilayah tertentu saja. Seperti kecamatan kaba wetan. Padahal menurut beliau wilayah-wilayah lain juga memiliki konstribusi yang sama bahkan lebih besar terhadap daerah tetapi tidak mendapatkan perhatian serius. Demikian juga industri UMKM seperti industri bubuk kopi, bantuan alat-alat industri ringan hingga alat industri menengah hanya terkonsentrasi ke wilayah kecamatan kaba wetan. Padahal ada banyak industri sejenis yang pertumbuhan usaha mereka justru lebih besar. Di kecamatan kepahiang misalnya ada kopi kepahiang di pasar ujung, Putra coffee di imigrasi permu, sari rasa kopi di desa nanti agung, anita kopi di desa tebing penyamun, kopi redjang sebagai satu-satunya merek lokal kabupaten kepahiang yang kental membawa entitas lokal dan telah merambah pasar swalayan moderen tetapi kurang memperoleh perhatian pemerintah.

Melalui diskusi-diskusi yang intens dilakukan ini akhirnya bapak Bambang Asnadi akhirnya bersedia untuk turun kembali ke dunia politik demi menampung dan menyampaikan aspirasi masyarakat. Seperti di desa penanjung panjang dan penanjung panjang atas misalnya, dua desa ini masyarakatnya mulai terbuka untuk menjadi masyarakat produksi. Selain industri kopi bubuk merek kopi redjang yang ada di desa penanjung panjang atas. Di dua desa ini juga terdapat industri kerupuk pulli antara lain merek rajo bermani, cap burung kolibri dan cap ayam bangkok dan cap putri rejang dimana pelaku usaha kerupuk tersebut telah mengikuti pelatihan di dinas kesehatan untuk memperoleh sertifikat industri pangan dan agar produknya memiliki legalitas yang sah dan izin edar.

Para pelaku UMKM sering merasakan diskriminasi dari pemerintah daerah karena terkonsentrasinya bantuan alat-alat industri pada wilayah tertentu saja. Bahkan terdapat industri rumahan yang sudah seperti dealer mesin karena menumpuknya bantuan mesin industri padahal produk hasil industrinya sangat rendah bahkan belum mampu tampil di pasar secara luas. Sementara daerah lain yang produk industrinya sudah tumbuh dan pasarnya luas justru kesulitan untuk memperoleh akses bantuan alat industri.

Dari hasil diskusi ini maka bapak Bambang Asnadi merasa bertanggung jawab secara moral untuk menjadi wadah aspirasi masyarakat yang adil. Agar bantuan untuk UMKM bisa merata dan berprioritas pada manfaat yang lebih besar. Karena ini akan menjadi sumber pendapatan yang positif dan berkonstribusi riil bagi daerah.

Melihat fenomena ini maka dapat disimpulkan bahwa bantuan alat industri dan bantuan lainnya bagi UMKM kabupaten kepahiang tidak memperioritaskan pada keadilan pembangunan dan pembangunan ekonomi masyarakat secara luas. Ini lebih kental dengan nuansa politik agenda lima tahunan.

Masyarakat khususnya pelaku UMKM berharap agar pemerintahan yang akan datang tidak berlaku diskriminatif secara politik. Agar pelaku usaha UMKM diberi akses dan perhatian yang sama. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepribadian melalui pelatihan-pelatiahan bisnis ke luar daerah secara bergantian. Karena selama ini kesempatan hanya diberikan untuk orang yang sama dari waktu ke waktu padahal mereka setelah mengikuti berbagai pelatihan dan pameran ke luar daerah tetapi tetap tidak menunjukan pertumbuhan usaha yang jelas. Produk mereka juga tidak tumbuh, pasar mereka tidak tumbuh dan agar pemerintah khsususnya para kepala dinas tidak anti kritik.



Label: ,

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.