December 2018




Perjalanan bangsa indonesia ini sudah sangat panjang. Tetapi perjalan indonesia sebagai sebuah negara masih sangat muda. Baru satu generasi untuk ukuran rata-rata produktif. Terbukti meskipun mereka sudah berada pada kisaran usia yang cukup renta. Setidaknya sebagai sebuah saksi momentum kebangkitan bangsa ini untuk mendeklarasikan sebuah negara mereka sempat hadir. Mungkin ingatan mereka masa itu belum terlalu cukup kuat untuk merekam sebagian besar peristiwa jika mereka lahir dikisaran tahun 1940-an, tetapi mereka yang lahir sebelum tahun 1930-an tentu lebih memiliki tingkat ingatan sejarah yang cukup matang. Sayangnya usia saat ini merengkut sebagian besar ingatan mereka karena usia mereka tentu sudah di atas 80-an tahun.

Bagaimana dengan peristiwa 1926, era 1948 dan masa 1965 hingga tragedi 1998 ?. untuk mereka yang menyaksikan era 1965 pada umumnya masih memiliki kualitas ingatan yang sempurna tentang memori sebuah peristiwa kejahatan politik masa itu

Kita semua tidak sepenuhnya sependapat bahwa “Ahok” adalah penjahat dalam kasus yang beliau alami. Bahkan Ahok justru memang bukan penjahat. Tetapi tergantung kita menggunakan sudut pandang siapa, tingkat kontras pandangan dan kejujuran pada kepentingan apa kita melihat dan memberi hukum pada apa pun objek yang menjadi alasan .  ini adalah hukum “relativitas”. Setiap orang boleh mengemukakan pendapatnya menurut sudut pandang dan kapasitas pengetahuannya. Yang menjadi tolak ukur ketika pendapatnya akan dijadikan rujukan publik adalah, sudut pandang yang didasari oleh hukum relativitas tersebut harus bebas dari sentimentil dan jujur.

Banyak para pengamat politik di media elektronik saat ini adalah pengamat yang tidak memiliki karakter mental yang kuat independensinya. Secara kasat mata, Boni hargens misalnya. Tidak ada keluesan dalam setiap teknik pengutaraan data. Sehingga setiap argumentasinya hanya berdasar pada pelepasan emosi yang ini menjadi alasan mengapa Prof.Rocky gerung memberi footnote sebagai “dungu”. Sebuah tendensi dan estetika buruk bagi seorang pengamat yang memperoleh label tersebut.

Dari sudut pandang manapun setiap mereka pasti memiliki kepentingan pada kekuasaan yang telah menjadi fitrah manusia. Hanya ragam latar belakangnya yang membuat seolah-olah ada pelaku kejahatan dan ada korban kejahatan. Keduanya memiliki kedukukan yang sama pada point of view masing-masing pihak.

Ir.Basuki tjahaya purnama atau Ahok tergantung dari sudut pandang siapa dan frame siapa yang digunakan sebagai subjek penilaian.  Tersebar luasnya rekaman Buni Yani yang berimplikasi pada kontradiksi publik secara luas dapat diadili dengan hukum relativitas baik dari mereka yang pro maupun yang kontra terhadap peristiwa ini. Bagaimana framingnya dan siapa korban sebenarnya serta siapa pemulung yang paling “hoki” dalam hal ini. Semuanya akan bermuara pada “Cuan” dan “Cien”. Penulis juga tahu bahwa tidak semua sependapat dengan opini ini. Tetapi berusaha menyajikan sebuah pendapat yang diharapkan akan mampu menjadi “Radiator” yang bebas dari kepentingan yang memihak.

Ir.Basuki tjahaya purnama menjadi momentum bagi sebagian kelompok yang selama ini merasa terdiskriminasi untuk bangkit. Tetapi juga menjadi momentum bagi para penunggang kuda hitam yang siap mendulang keuntungan besar tanpa pengorbanan yang begitu berarti. mungkin ini juga bagian dari susunan rencana besar yang dibangun sangat cukup lama bagi kelompok minoritas untuk tampil sebagai superior. Kemudian tatanan sosial dan tatanan politik menjadi berubah persis seperti rencana yang telah mereka agendakan. Politik dan momentum, bahwa tim dari kelompok kecil secara psikologi memiliki tingkat soliditas yang lebih kuat dari pada kelompok besar karena mereka lebih mudah terjebak pada euforia.

Sejarah sangat cerdas membuktikan berbagai peristiwa penting yang saat ini menjadi monumen rujukan banyak orang baik secara sadar maupun tisdak sadar. Bahwa Musa atau Mosses mampu meruntuhkan kediktatoran yang hampir dianggap mustahil. Bahwa Muhammad dan pasukannya mampu memenangkan perang dengan jumlah tentara yang lebih kecil. Dan ini bisa menjadi mungkin bahwa indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar biasa hancur oleh kelompok kecil yang selama ini tidak terbayangkan. Jangan katakan ini mustahil dan dilihat secara tidak proporsional sehingga publik atau anda akan menilai penulis sebagai penyadang penyakit jiwa akut.

Kita selalu di beri sajian khas setiap musimnya pada hal-hal yang tampak nyata seperti kebangkitan komunisme atau pilihan lain yakni khilafah. Padahal bisa jadi bukan ini objek finalnya. Mungkin ada kelompok kecil yang telah membangun rencana kuat untuk mengganti sistem agama, sosial dan politik di indonesia. Sebelum negara kesatuan republik indonesia (NKRI) berdiri, telah berapa banyak negara yang ada di nusantara yang saat ini hanya ada dalam catatan sejarah dan nyaris dilupakan.

Setiap detik masyarakat di sibukkan dengan sajian informasi yang padat tentang isu komunisme dan isu khilafah. Kedua kubu seolah saling menunjukan eksistensinya. Para pengamat sosial dan politik cenderung memiliki amnesia pada kejadian yang baru berlalu 7 menit yang sebelumnya. Tidak memiliki konsitensi berfikir dan menyerahkan kedaulatan pribadinya sebagai “penjilat”. Tidak objektif. Padahal mungkin dan sangat hampir dipastikan ada “atom” sebagai kekuatan kecil yang akan menghancurkan dari dalam yang mereka saat ini tidak terlihat akibat dari framing-framing kedua kubu ini.

Dari sudut pandang pro islam, ahok adalah penjahat tetapi pahlwan dari pihak lain. Dan demikian juga pendukung khilafah yang menganggap kelompoknya adalah pahlawan sementara kelompok yang berseberangan menganggap mereka penjahat. Tetapi ada kelompok kecil yang menganggap kedua kelompok ini adalah pahlawan bagi mereka. Baik pendukung isu  khilafah maupun isu komunisme. Kelompok kecil ini tentu bukan dari pendukung komunisme maupun pendukung khilafah. Tetapi mereka bisa saja tiba-tiba muncul sebagai penunggang kuda hitam dan siap mendeklarasikan kelompok mereka sebagi penguasa. “Who is that ?’’.
Waspada dengan euforia terhadap apa yang sedang berpihak pada kita saat ini, waspada dengan euforia terpenjaranya Ahok tau berkuasanya Ir.Joko Widodo. Waspada terhadap euforia reuni 212 yang kesemuanya diklaim sebagai sukses besar terhadap momentum kebangkitan oleh masing-masing pendukung. Boleh jadi ini adalah proses seleksi alam. Bukan khilafah atau komunisme yang akan memperoleh peruntungan. Tetapi kelompok kecil yang saat ini masih dalam bentuk janin dan siap lahir. Siapa nama mereka ?. kita tidak tahu. Tetapi sejarah telah banyak memberi kesaksian terhadap peristiwa-peristiwa seperti saat ini beribu tahun yang lalu dan teori ini tetap memiliki relevansi.





“Kejahatan  seorang pemimpin suatu negara adalah bukan karena dia gagal memenuhi janji politiknya, tetapi karena dia tidak tahu untuk apa janji itu dibuat dan bagaimana cara mewujudkannya”.
Sistem demokrasi indonesia dan sistem penerapan politik praktis di indonesia menurut klaim banyak pihak adalah sistem demokrasi terbaik di dunia. Tetapi secara lebih halus sistem perpolitikan yang berlandas pada sistem demokrasi ini justru menjadi sistem skandal politik yang buruk sebagai sebuah sitem negara.

Politik yang hanya cenderung pada pencapaian kekuasan adalah sebuah kejahatan kemanusiaan. Sistem demokrasi terbaru di indonesia justru hanya melahirkan penjahat-penjahat baru. Siapa mereka ?. adalah mereka yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang pemimpin tetapi harus di desain sedemikian rupa agar tampak khas dan layak untuk kemudian didedikasikan sebagai seorang pemimpin. Dengan istilah lain mereka hanyalah agen dari sebuah persekongkolan atau konspirasi untuk sebuah kepentingan sekelompok kecil orang yang memiliki akses penuh pada sumber-sumber ekonomi vital. Boleh jadi mereka bukanlah seorang yang benar-benar paham pada komplektisitas sebuah permasalahan secara menyeluruh. Tentu ada aktor di belakang seorang pemimpin tersebut, ada desainer, melibatkan konsultan, ada agen dan akan ada korban dalam sebuah kejahatan politik transaksional.

Politik suatu negara secara luas bukan hanya pada siapa yang akan menjadi aktor utama yang siap menjadi dipublikasikan dan siapa aktor pengganti (stuntman) yang siap untuk menjadi korban dalam siklus politik praktis. Secara kasat mata sebagian pendukung terbagi pada beberapa kelompok sebagaimana mengutip “puzzle” dari Prof.Rocky Gerung dengan istilah pengelompokan “dungu satu, dungu dua, dungu tiga dan akan ada alternative lanjutan hingga multi dungu”.   

Rocky gerung menjadi trending topic  menjadi bulan-bulanan dari pihak yang awalnya setuju menjadi tidak setuju, dari yang tidak setuju menjadi setuju, dari yang tetap tidak setuju karena dasar emosional dan sentimentil kelompok dan ada yang makin setuju juga akibat kebosanan pada tatanan sosial dan politik yang berdampak pada kelompoknya.
Disisi lain, masyarakat terlanjur melihat fenomena ini sebagai fenomena kegilaan dan telah inkrah menjadi “gila”. Hal ini justru menyelamatkan mereka dari tuntutan hukum apa pun. Karena secara hukum orang gila tidak dapat di adili dan dihukum.  Dan sebagian kecil masyarakat yang masih dalam kategori waras tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan kemampuan untuk mengurus orang gila yang jumlahnya sangat fantastis.

Bayangkan betapa masyarakat kita sangat mudah melihat sesuatu bukan pada fakta yang telah memperoleh kajian ilmiah dan akademik. Sangat mudah masuk dalam euforia kegilaan masal. Dan akibatnya terbentuk sebuah sistem komunitas yang isinya adalah orang-orang gila. Yaitu orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk memimpin sebuah komunitas besar tanpa sadar akan kemampuannya. Orang gila tentu hilang rasa malunya dan orang waras tidak peduli dengan hal itu. Akhirnya keduanya terjerembab pada status yang sama “Gila”.

Para politikus membuat janji-janji politik yang sebenarnya secara ilmiah sulit dan mustahil diwujudkan hanya demi syahwat kekuasaan sesaat.  Dan jika mereka mengatakan tentang semua kualitas prestasi kebaikan mereka itu semua “bulshit”.

Layaknya seorang pemabuk. Mereka mengutarakan janji-janji tanpa dilandasi kesadaran penuh. Sehingga tidak mungkin janji itu dapat dipenuhi sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak memahami akar persoalan secara utuh. Maka ini adalah bentuk kejahatan kolektif yang dampaknya adalah bagi generasi selanjutnya 30 atau 50 tahun mendatang.




Seluruh media televisi nasional akhirnya tawaduk pada kekuatan tidak kasat mata. Mereka mengorbankan reputasinya dan memberi cacat tetap yang layak menerima tabungan premi asuransi sebagai korban yang mengalami cacat tetap. Siapa korbannya ?. para jurnalis. Apakah semua jurnalis juga terjebak dalam skandal dunguisme ?. boleh iya boleh tidak tergantung seberat apa kemampuan intelektul seorang pengamat untuk berargumentasi dengan berlandas pada kedaulatan pribadi. Secara pasti bahwa tidak ada satu manusia pun yang sungguh-sunggu merdeka dan berdaulat penuh atas dirinya. Nanti kita bicara dengan retorika hukum tuhan dan hukum agama. Semakin seseorang mengikatkan pada sesuatu semakin lemah tingkat independensinya sebagai makhluk yang berdaulat. Semakin mengeratkan diri pada kelompok yang sangat besar semakin kecil pula kedaulatan dan eksistensinya. Mungkin saat ini pilihannya hanya satu jika satu masih layak dikategorikan sebagai sebuah pilihan. “bagaimana mendapatkan manfaat ekonomi”.

Ketika bersandar pada filosofi “hidup adalah pilihan”, maka independesinya telah diserahkan kepada selain dirinya. Kecuali jika filosofinya “hidup adalah keputusan”. Meskipun tidak serta merta seseorang merdeka hanya karena secara latah mengambil sikap pada filosofi ke dua.

Para jurnalis kita saat ini sebagian besar tidak lebih dari seorang pekerja atau karyawan yang berkerja berdasar harga pesanan boss dan menakar kualitas produk berdasar harga kesepakatan. Dan mungkin sama sekali tidak ada proses tawar menawar , sehingga cenderung menjadi penjilat dan menjadi budak yang berkerja tanpa penghargaan. Maka sangat tidak asing jika hari ini para wartawan atau tenaga pers dapat dengan bebas menampakkan jati dirinya di depan publik seperti seolah-olah profesi jurnalis adalah profesi “zero risk”, padahal profesi jurnalis adalah profesi “high risk”. Mereka adalah teliksandi masyarakat dan resiko peran mereka di lapangan justru bisa lebih beresiko dibanding profesi seorang prajurit perang.

Hal ini yang menjadi sorotan. Ketika jurnalis kita saat ini hanya bekerja sebagai pegawai tukang fotocopy. Pegawai fotocopy tidak memiliki wewenang untuk mengkritik konsumennya. Dia hanya bekerja sesuai order dan sangat minim resiko. Kliping, cutting, atau bayar.“Begitu sangat memilukan”.

Indonesia dalam sebuah momentum besar peristiwa 02 Desember 2018 (212) yang tidak didokumentasikan oleh media televisi nasional di anggap sebagai sebuah peristiwa yang lebih ringan bobotnya dari peristiwa seorang ketua RT yang datang kerumah warga hanya untuk sekedar mengaktifkan tombol MCB dari posisi Off ke posisi On. Padahal peristiwa tersebut tidak memiliki urgensi yang berbobot untuk sebuah peristiwa yang harus dipublikasikan. Tetapi mereka memperoleh manfaat ekonomi jangka pendek yang mungkin sebagai amunisi utama untuk menyelamatkan perut anggota keluarganya. Sementara peristiwa berkumpulnya ratusan ribu orang adalah peristiwa penting. Ini adalah bentuk kejahatan jurnalistik.
Sayangnya setelah era orde baru. Pembodohan sistematik dalam dunia pendidikan seperti telah memperoleh sertifikasi halal yang tidak disadari. Dimana sikap kritik dianggap sebuah kejahatan pada negara. Negara yang lemah adalah negara yang anti kritik. Sebuah paham otoriter yang maha gila yang membungkam lawan-lawan politik dengan cara yang sangat kekanak-kanakan. Siapa korbannya ?. tentu sebagian besar masyarakat yang tidak paham politik atau mereka yang masa bodoh dengan kebutuhan akan politik. Ini wangat wajar jika seorang Rocky gerung menyebutnya sebagai sebuah ke “dungu”an nasional.

Lalu kemana peran lembaga pembangun moral selama ini termasuk agama. Ternyata agama juga masuk dalam lingkaran politik tetapi dalam pisisi yang lemah. Padahal landasan negara kesatuan republik indonesia (NKRI) adalah agama sebagai landasan dasar politik dan  terbentuknya rangkuman paham yang kemudian disepakati dengan nama  pancasila.

Sayangnya saat ini pancasila justru dipahami secara bias. Dan beberapa pokok ukuran justru dimanfaatkan oleh sekelompok golongan untuk memanipulasi paham tersebut. Bayangkan seseorang yang tidak memiliki kapasitas apalagi kualitas terhadap persoalan pada satu bidang tertentu justru meminta untuk memperoleh kepercayaan publik mengelola suatu permasalahan melalui bilik suara. Sangat buruk sekali akibatnya. Justru mereka yang memiliki kapasitas dan kapabilitas serta kualitas justru tidak memperoleh kesempatan untuk ikut berpartisipasi mengatasi sebuah persoalan.







Terdapat hal menarik dalam sebuah siaran telewicara di sebuah stasiun televisi HadiTV yang membahas tentang sebuah ajaran-ajaran tarekat di Indonesia. Sebuah siaran televisi khusus milik kelompok syiah yang eksis di Iindonesia sebagai media dakwah mereka. Hal yang menjadi dasar klarifikasi  saat ini bukan karena HadiTV adalah kanal siaran milik syiah, tetapi lebih kepada apa yang sedang mereka perbincangkan dalam acara tersebut. Tetapi narasumber yang mengaku sebagai peneliti tentang tarekat, Dr.Zakaria Husen Lubis.

Ada beberapa chanel televisi yang spesifikasinya adalah untuk dakwah baik itu dakwah atau mimbar dakwah agama kristen maupun islam. Terdapat InsanTV,RodjaTV,Share Channel,AswajaTV,NiagaTV dan lainnya yang secara spesifikasi ini adalah media televisi dakwah. Beberapa diantaranya adalah televisi yang menyajikan para pendakwah yang memiliki spesifikasi khusus dan menjadi sangat direkomendasikan untuk di ikuti. Seperti Ust. Adi Hidayat,LC yang ahli dalam hal bahasa arab. Memiliki cakupan keilmuan yang layak menyandang gelar ulama khususnya dalam bidang ilmu bahasa arab. Dr.Syafik Reza Basalamah.LC.,MA yang ahli dalam bidang sejarah islam. Dan beberapa ustad yang ahli bidang ekonomi dan ilmu kedokteran. Mereka berdakwah dengan keahlian dan keilmuan yang cukup dalam dan jauh dari kategori sesat lagi menyesatkan. Tetapi ini sangat berbeda dengan beberapa kajian yang disampaikan dalam HadiTV.

Menurut pengakuan Dr. Zakaria Husen Lubis beliau adalah seorang peneliti. Salah satu kajian yang beliau teliti adalah tentang tarekat dan paling spesifik yaitu meneliti tentang tarekat naqsyabandiah alkholidiah jalaliah DR.Syekh Salman Da’im.

Dalam sebuah rilis hasil penelitian yang sangat dangkal dan telalu dini untuk membuat kesimpulan bahwa beliau adalah seorang ilmuan dan peneliti yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas seseorang yang menyandang gelar akademik “Doktoral”. Bukan karena apa yang menjadi topik bahasan tersebut menyangkut masalah setuju atau tidak setuju atas apa yang beliau sampaikan. Tetapi lebih kepada aspek kesesatan informasi yang disampaikan melalui media publik.  Sehingga publik akan dengan segera melihat secara dangkal bahwa ajaran Dr.Syekh Salman Da’im mursyid tarekat naqsyabandiah alkholidiah yang berpusat di kabupaten Simalungun Sumatera utara ini adalah ajaran sesat lagi menyesatkan. Banyak informasi yang disajikan justru hanya bersifat “puzzle”. Tidak lengkap dan sumber referensinya sangat tidak lengkap untuk sebuah kajian penelitian seorang penyandang gelar akademik strata tiga “doktoral”.

Hal ini dikhawatiran akan menjadi tendensi buruk yang menghasilkan informasi spekulatif untuk masyarakat. Esensinya adalah, bahwa komunikasi ringan yang di sampaikan seorang akademikus Dr.Zakaria Husen Lubis sebenarnya lebih kuat pada sikap provokatif. Hampir lebih pada fakta skandal untuk membangun opini kuat dari informasi sesat yang bersifat sepotong-sepotong dan manipulatif. Hasil penelitian yang tidak memiliki dasar kajian ilmiah dan hanya bersifat referensi imajinasi dari peneliti sendiri.

Menurutnya, beliau telah melakukan penelitian selama 10 hari di rumah ibadah suluk DR.Syeik Salman da’im yang ada di kawasan puncak Bogor dimana nazirnya adalah Syekh muda Ir. Baginda Doli Diapari Siregar.Frich.,SCV,.CIC. dan beberapa murid Dr.Syekh Salman Da’im di wilayah Jabodetabek.

Tuduhan-tuduhan sesat tersebut beberapa diantaranya dalah bahwa ada beberapa pengakuan murud tentang shathoid dan murid mengalami sakau seperti mengkonsumsi ekstasi. Dan banyak informasi lainnya yang sengaja didesain oleh seorang akademisi yang bergelar doktoral “Dr.Zakaria Husen Lubis” untuk disebarkan ke publik melalui corong media dakwah para penganut syiah Indonesia HadiTV untuk memprovokasi dengan paparan-paparan hasil penelitian yang sangat tidak ilmiah dan sesat lagi menyesatkan.

Informasi yang sangat dangkal dan sumber referensi yang tidak berkualitas inilah yang akan menjadi tendensi buruk bagi sebuah kajian akademik islam secara luas. Tidak secara spesifik Dr.Zakaria Husen Lubis menuduh tarekat naqsyabandiah alkholidiah jalaliah sesat, tetapi secara nyata beliau mengarahkan opini publik untuk menuduh ajaran beliau sesat melalui informasi yang berasal dari kajian penelitian ilmiah yang sesat. Hal ini disampaikan di depan publik secara  transparan tanpa klarifikasi lengkap sebagai dasar penelitian.

Salah satu pokok penting yang tidak dapat beliau sampaikan adalah mengenai silsilah guru dan sumber-sumber dari mana Dr.Syekh Salman Da’im pernah menuntut ilmu agama islam. Dari mana beliau belajar ilmu fiqih dan sebagainya. Karena sejarah panjang ini tidak diketahui lengkap oleh para murid terutama yang datang di era tahun 2000-an hingga sekarang. Benar bahwa yang lebih umum di ketahui adalah beliau adalah murid  Prof.Dr.Syekh Haji  Jalaludin, tetapi sedikit yang tahu kecuali keluarga dan para murid-murid terdahulu. Beliau adalah silsilah ke 36 dari tiga jalur guru sekaligus yakni Syekh Muhammad Daud dari Syekh Abdul Wahab Rokan dari Syekh Sulaiman Zuhdi makkah, dari Syekh Muhamad Ali dan, dari DR.Syekh Haji Jalaludin dari syekh Ali Ridho dari syekh Sualiman Zuhdi makkah.
 Tuduhan sesat Dr.Zakaria Husen Lubis yang paling buruk adalah bahwa para Khalifah telah melakukan penyimpang yang berdasar pada motif ekonomi yakni memperjual belikan tarekat dengan cara menentukan tarif untuk masuk menjadi seorang murid “Bai’ah”.


Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.