Politik dunguisme ala prof. Rocky Gerung





“Kejahatan  seorang pemimpin suatu negara adalah bukan karena dia gagal memenuhi janji politiknya, tetapi karena dia tidak tahu untuk apa janji itu dibuat dan bagaimana cara mewujudkannya”.
Sistem demokrasi indonesia dan sistem penerapan politik praktis di indonesia menurut klaim banyak pihak adalah sistem demokrasi terbaik di dunia. Tetapi secara lebih halus sistem perpolitikan yang berlandas pada sistem demokrasi ini justru menjadi sistem skandal politik yang buruk sebagai sebuah sitem negara.

Politik yang hanya cenderung pada pencapaian kekuasan adalah sebuah kejahatan kemanusiaan. Sistem demokrasi terbaru di indonesia justru hanya melahirkan penjahat-penjahat baru. Siapa mereka ?. adalah mereka yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang pemimpin tetapi harus di desain sedemikian rupa agar tampak khas dan layak untuk kemudian didedikasikan sebagai seorang pemimpin. Dengan istilah lain mereka hanyalah agen dari sebuah persekongkolan atau konspirasi untuk sebuah kepentingan sekelompok kecil orang yang memiliki akses penuh pada sumber-sumber ekonomi vital. Boleh jadi mereka bukanlah seorang yang benar-benar paham pada komplektisitas sebuah permasalahan secara menyeluruh. Tentu ada aktor di belakang seorang pemimpin tersebut, ada desainer, melibatkan konsultan, ada agen dan akan ada korban dalam sebuah kejahatan politik transaksional.

Politik suatu negara secara luas bukan hanya pada siapa yang akan menjadi aktor utama yang siap menjadi dipublikasikan dan siapa aktor pengganti (stuntman) yang siap untuk menjadi korban dalam siklus politik praktis. Secara kasat mata sebagian pendukung terbagi pada beberapa kelompok sebagaimana mengutip “puzzle” dari Prof.Rocky Gerung dengan istilah pengelompokan “dungu satu, dungu dua, dungu tiga dan akan ada alternative lanjutan hingga multi dungu”.   

Rocky gerung menjadi trending topic  menjadi bulan-bulanan dari pihak yang awalnya setuju menjadi tidak setuju, dari yang tidak setuju menjadi setuju, dari yang tetap tidak setuju karena dasar emosional dan sentimentil kelompok dan ada yang makin setuju juga akibat kebosanan pada tatanan sosial dan politik yang berdampak pada kelompoknya.
Disisi lain, masyarakat terlanjur melihat fenomena ini sebagai fenomena kegilaan dan telah inkrah menjadi “gila”. Hal ini justru menyelamatkan mereka dari tuntutan hukum apa pun. Karena secara hukum orang gila tidak dapat di adili dan dihukum.  Dan sebagian kecil masyarakat yang masih dalam kategori waras tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan kemampuan untuk mengurus orang gila yang jumlahnya sangat fantastis.

Bayangkan betapa masyarakat kita sangat mudah melihat sesuatu bukan pada fakta yang telah memperoleh kajian ilmiah dan akademik. Sangat mudah masuk dalam euforia kegilaan masal. Dan akibatnya terbentuk sebuah sistem komunitas yang isinya adalah orang-orang gila. Yaitu orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk memimpin sebuah komunitas besar tanpa sadar akan kemampuannya. Orang gila tentu hilang rasa malunya dan orang waras tidak peduli dengan hal itu. Akhirnya keduanya terjerembab pada status yang sama “Gila”.

Para politikus membuat janji-janji politik yang sebenarnya secara ilmiah sulit dan mustahil diwujudkan hanya demi syahwat kekuasaan sesaat.  Dan jika mereka mengatakan tentang semua kualitas prestasi kebaikan mereka itu semua “bulshit”.

Layaknya seorang pemabuk. Mereka mengutarakan janji-janji tanpa dilandasi kesadaran penuh. Sehingga tidak mungkin janji itu dapat dipenuhi sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak memahami akar persoalan secara utuh. Maka ini adalah bentuk kejahatan kolektif yang dampaknya adalah bagi generasi selanjutnya 30 atau 50 tahun mendatang.

Label: ,

Post a Comment

[facebook] [blogger]

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.