2019



Kebiasan umum menyeduh kopi adalah dengan air mendidih 100 ͦC . ya, karena kandungan bubuk kopi harus dilarutkan dengan proses pemanasan. Untuk jenis kopi espresso derajat panas yang digunakan justru lebih tinggi lagi. Tujuan akhir adalah untuk menemukan cita rasa khas kopi yang nikmat dan mengagumkan.

Pada keadaan tertentu ternyata kopi yang dihidangkan panas tidak mendukung suasana tempat kamu ngopi. Kebiasaan ngopi yang harus segera dipenuhi untuk meredam gejolak stress tentu tidak baik untuk ditunda. Solusinya adalah memesan es kopi. Setuju banget, setelah kopi diseduh dan disaring kemudian ditambahkan potongan batu es ke kopi. Biarkan sejenak agar menyatu antara kopi dan es baru dinikamti. Rasanya sungguh luar biasa untuk menebus keinginan ngopi yang tidak boleh ditunda.

Sayangnya kulaitas rasa kopi jadi berkurang, baik dari segi aroma maupun semua yang mendukung kenikmatan kopi. Terkadang mereka membuat kopi kental yang telah disaring dan mendiamkannya sampai suhu panasnya menurun untuk kemudian disimpan dalam lemari es. Is good alternative, sayangnya tetap kualitas rasa tidak akan untuh. Oleh sebab itu sebagian para penggila kopi yang tidak bersedia taubat dari minum kopi dan ingin selalu menikmati kopi dingin dengan rasa yang full, mereka menyeduhnya dari awal menggunkan batu es. Benarkah ?, ya. Tetapi bagaimana mungkin bubuk kopi yang diberi batu es dapat menyatu dan menghasilkan kopi nikmat yang penuh sensasi. Ternyata tekniknya yang sedikit rumit karena waktu untuk menikamti kopi jadi lebih lama. Seperti kata pepatah “ pengorbananmu sebanding dengan nikmat yang akan kau dapatkan”.

Tekniknya adalah kopi digiling ukuran kasar (coarse) kemudian dimasukkan dalam bejana. Teknik murahnya adalah memodifikasi dengan selang infus dan tabung air minum isi ulang. Tuangkan bubuk kopi segar yang baru digiling ke bejana dan masukkan potongan batu es di atasnya kemudian tutup rapat. Buka kran selang infus dan masukkan ujungnya ke wadah seperti botol atau sejenisnya dan lapisi isolasi agar tidak terkontaminasi udara dan benda asing. Biarkan batu es mencair dan menetes perlahan-lahan. Pada prakteknya satu malam hanya akan menghasilkan kurang dari 800 ml. Setelah selesai maka buka dan hirup aroma khas kopi dengan kombinasi buah,cincau,tembakau dan madu serta aneka lainnya tergantung jenis kopi. Rasanya sangat full body dan luar biasa mengingatkan kamu pada hari-hari nostalgia paling terindah dalam hidupmu. Masukkan dalam cover bag atau lainnya dan siap untuk melakukan perjalanan kemana kamu inginkan. Ke pantai kah, ke pulau terpencil atau ke gunung tanpa harus rindu segera pulang ke rumah hanya karena khawatir jadwal ngopi spesialmu tertunda.

Kopi Redjang membuatnya hanya untuk hadiah kepada orang-orang dan sahabat yang sangat special. Karena sahabat sangat berharga bagi kita tentu sangat wajar memberikan sesuatu yang kita peroleh dengan tidak instan sebagai bentuk penghargaan yang tinggi buat mereka.
Aroma kopi yang diseduh dengan batu es aromanya mampu meleburkan semua bentuk kecemasan dan ketakutan mengahadapi masa depan bahkan sebelum kopi itu menyentuh permukaan bibirmu yang lembut. Kopi yang sangat memberi gairah hidup dan membuat kita lupa kepada alamat hari tua.taste-nya,flavour-nya,aroma-nya begitu sangat mengagumkan. Menggunakan bahan baku kopi robusta sintaro premium dari dataran tinggi tanah rejang bukan sekedar alternative, tetapi sebuah rekomendasi yang wajib diperhitungkan dan masuk dalam daftar kopimu sebagai best coffee holic.
Eka Susiani.SP (owner Kopi Redjang)





Menikmati keindahan lanskap samudera hindia dari pesisir pantai panjang bengkulu menjadikan keberuntungan tersendiri. Sebagai penghilang kejenuhan diakhir pekan setelah menghabiskan rutinitas kantor selama hampir satu minggu, saatnya Quality time dengan keluarga. Bahwa kecerdasan emosional seseorang akan menurun akibat tekanan beban kerja dan akan menimbulkan depresi berat yang berakibat pada memburuknya hubungan dan tim kerja dan keluarga. Maka mencegah hal tersebut adalah dengan melenturkan sejenak syaraf-syaraf kepala dan mengganti oksigen dalam paru-paru dengan oksigen berkualitas baik di samudera hindia agar kerja jantung lebih optimal dan hasil kerja berkualitas super luar biasa baik.

Bagi mereka yang hoby blogging, photo shelfie atau grouvy. Pantai panjang bengkulu adalah pilihan yang sangat cerdas untuk mengabadikan moment terbaik kamu bersama rekan kuliah, pacar atau sahabat jauh dan keluarga. Pantai panjang bengkulu bukan sekedar alternative, tetapi adalah keharusan bagi mereka yang ingin prewedding dengan biaya murah tetapi hasilnya menakjubkan. Tidak butuh kamera super canggi dan berharga mahal, karena keindahan alam pantai panjang bengkulu telah menghilangkan semua kekurangan dari kualitas kamera telepon seluler kamu. Ketika hasil photo kamu yang berlatar belakang pantai panjang bengkulu kamu tayangkan di jejaring sosial, maka kekaguman bagi sahabat jauh kamu bahwa kecantikan kamu akan melebur dan selaras dengan kemolekan ombak lautnya.

Pantai panjang bengkulu akan terus melahirkan ide baru bagi para blogger sebagaimana seorang penyair mengatakan “..laut, kepadamu aku pulangkan segala luka (M.Yusro Budiono)”. Bentangan laut yang luas seperti sajadah tak berbatas yang siap menelan kesedihan dan kepahitan hidup kamu rindu dan doa-doa paling lembut dan menggantinya dengan kemegahan bathin dan keagungan jiwa.

Saat ini sepertinya belum ada tempat yang tepat untuk di kunjungi menggantikan panorama pantai panjang bengkulu di tanah melayu ini. Gugusan cemara yang berjajar di kanan dan kiri berliuk-liuk mengingatkan pada tarian ronggeng jawa yang begitu sangat mempesona atau hentakan ombak yang mengingatkan kita pada tari kecak bali.. Keramah tamahan penduduk lokal yang beasal dari berbagai suku yakni suku sunda,suku jawa, suku serawai bahkan suku batak dan suku rejang , bali dan masyarakat tionghoa membuat kamu berfikir seribu kali untuk meninggalkan pantai panjang bengkulu secepat ini.

Tetapi dengan berat hati dan kamu harus bergegas untuk kembali kepada tugas-tugas kantor kamu. Kembali kepada rutinitas dan kembali pada setumpuk buku. Kamu mungkin sangat berencana untuk kembali berlabuh di pantai panjang bengkulu. Kamu akan bercerita banyak dengan teman dan saudara di tempat kamu. Tentu kamu tidak ingin dianggap sebagai pembual yang penuh omong. kosong, setidaknya kamu ingin sahabat maupun saudara ikut merasakan puzzle atau serpihan kebahagian yang kamu dapatkan dari pantai panjang bengkulu. Setidaknya oleh-oleh yang khas dari bengkulu adalah kopi. Ya, kopi dapat menjadi teman sejati yang sangat baik dalam berbagi moment keakraban dengan teman di kantor sambil bercerita tentang rencana liburan kantoran ke pantai panjang bengkulu. Salah satu merek kopi yang cukup terkenal adalah kopi Redjang. Bubuk kopi Redjang adalah produk khas dari dataran tinggi tanah rejang yang berkualitas premium. Kamu bisa dapatkan di Mall Puncak bengkulu, di Mini Market eljohn, di pusat oleh-oleh anggut bengkulu atau kalau ingin lihat-lihat sambil ngopi di tempat maka direkomendasikan ke distributornya yakni Harmoko mustovo. Untuk mudahnya tinggal buka telepon seluler lalu buka aplikasi google maps dengan keyword “kopi Redjang”.
Harga yang ditawarkan sangat murah untuk jenis kopi berkualitas. Di gerai dangau datuk juga tersedia.
Lengkap sudah. Kamu dapatkan keindahan,inspirasi,suka cita dari pantai panjang bengkulu dan juga oleh-oleh kopi Redjang premium langsung dari pengasuhnya. Maka kamu pulang dengan hidup yang lengkap. Penderitaan dan beban hidupmu biarkan mengendap di pantai panjang bengkulu dan lebur bersama ombak, melayang bersama angin pantai ke atmosfer tak terbatas untuk kembali pada pemilik segala keindahan.
Eka Susiani.SP (owner kopi Redjang)





Menikmati keindahan lanskap pengunungan dari perkebunan teh kabawetan menjadikan keberuntungan tersendiri. Sebagai penghilang kejenuhan diakhir pekan setelah menghabiskan rutinitas kantor selama hampir satu minggu, saatnya Quality time dengan keluarga. Bahwa kecerdasan emosional seseorang akan menurun akibat tekanan beban kerja dan akan menimbulkan depresi berat yang berakibat pada memburuknya hubungan dan tim kerja dan keluarga. Maka mencegah hal tersebut adalah dengan melenturkan sejenak syaraf-syaraf kepala dan mengganti oksigen dalam paru-paru dengan oksigen berkualitas baik di pegunungan agar kerja jantung lebih optimal dan hasil kerja berkualitas super luar biasa baik.

Bagi mereka yang hoby blogging, photo shelfie atau grouvy. Kepahiang mountain valley adalah pilihan yang sangat cerdas untuk mengabadikan moment terbaik kamu bersama rekan kuliah, pacar atau sahabat jauh dan keluarga. Kepahiang mountain valley bukan sekedar alternative, tetapi adalah keharusan bagi mereka yang ingin prewedding dengan biaya murah tetapi hasilnya menakjubkan. Tidak butuh kamera super canggi dan berharga mahal, karena keindahan alam kepahiang mountain valley telah menghilangkan semua kekurangan dari kualitas kamera telepon seluler kamu. Ketika hasil photo kamu yang berlatar belakang kepahiang mountain valley kamu tayangkan di jejaring sosial, maka kekaguman bagi sahabat jauh kamu bahwa kecantikan kamu akan melebur dan selaras dengan kemolekan alamnya.

Kepahiang mountain valley akan terus melahirkan ide baru bagi para blogger sebagaimana seorang penyair mengatakan “..bahwa cinta selalu memberikan seribu nyawa baru (M.Yusro Budiono)”. Bentangan hijau kebun teh yang luas seperti permadani hijau yang siap menelan kesedihan dan kepahitan hidup kamu dan menggantinya dengan kemegahan bathin dan keagungan jiwa.

Saat ini sepertinya belum ada tempat yang tepat untuk di kunjungi menggantikan panorama kepahiang mountain valley di tanah rejang ini. Gugusan kayu meranti afrika yang berjajar di kanan dan kiri jalan berliuk itu mengingatkan pada tarian ronggeng jawa yang begitu sangat mempesona. Keramah tamahan penduduk lokal yang beasal dari berbagai suku yakni suku sunda,suku jawa, suku serawai bahkan suku batak dan suku khas asli yakni suku rejang membuat kamu berfikir seribu kali untuk meninggalkan kepahiang mountain valley.

Tetapi dengan berat hati dan kamu harus bergegas untuk kembali kepada tugas-tugas kantor kamu. Kembali kepada rutinitas dan kembali pada setumpuk buku. Kamu mungkin sangat berencana untuk kembali berlabuh di kepahiang mountain valley. Kamu akan bercerita banyak dengan teman dan saudara di tempat kamu. Tentu kamu tidak ingin dianggap sebagai pembual yang penuh omong kososng, setidaknya kamu ingin sahabat maupun saudara ikut merasakan puzzle atau serpihan kebahagian yang kamu dapatkan dari kepahiang mountain valley. Setidaknya oleh-oleh yang khas dari kepahiang adalah kopi. Ya, kopi dapat menjadi teman yang sangat baik dalam berbagi moment keakraban dengan teman di kantor sambil bercerita tentang rencana liburan kantoran ke kepahiang mountain valley. Salah satu merek kopi yang cukup terkenal adalah kopi Redjang. Bubuk kopi Redjang adalah produk khas dari dataran tinggi tanah rejang yang berkualitas premium. Kamu bisa dapatkan di Mall Puncak kepahiang, di Mini Market Sabila, di hotel Umro atau kalau ingin lihat-lihat sambil ngopi di tempat maka direkomendasikan ke Central Kedai Kopi Kepahiang (CK-3) milik mister Panca di desa tebat monok.

Harga yang ditawarkan sangat murah untuk jenis kopi berkualitas. Di Central kedai kopi kepahiang (CK-3) kamu bisa diskusi apa aja tentang kopi yang dihasilkan dari dataran tinggi kepahiang. Selain kopi, bagi penghobi satwa yakni burung. Maka central kedai kopi kepahiang selalu mengadakan event kicau mania disetiap akhir pekan.

Lengkap sudah. Kamu dapatkan keindahan,inspirasi,suka cita dari kepahiang mountai valley dan juga oleh-oleh kopi Redjang premium langsung dari pengasuhnya. Maka kamu pulang dengan hidup yang lengkap. Penderitaan dan beban hidupmu biarkan mengendap di kepahiang mountain valley dan menguap bersama embun atau mengalir menelusuri sungai-sungai kecil hingga ke sungai musi dan bermuara ke laut kembali pada pemilik segala kesudahan.
Eka Susiani.SP (owner kopi Redjang)




Menggunakan extensi domain dot co dot id (.co.id)yang lebih mengidentitaskan ke indonesiaan, monggo di luncurkan pada sekitaran bulan maret lalu tahun 2019 bertepatan dengan hari lahir pendirinya M.Yusro Budiono 05 Maret 1983.
Saat peluncuran awalnya monggo masih menggunakan content management system (CMS) dari  CMS terbesar di dunia yakni wordpress sebelum akhirnya menggunakan CMS wowonder. Meskipun diakui oleh direktur Naqsa golden exosite (NQSA) ini, bahwa keinginanya adalah membangun situs jejaring sosial yang berbeda yakni membangun CMS sendiri. Tetapi ia mengatakan bahwa proses awal adalah membangun branding  domain terlebih dahulu. Sebagaimana situs yang dia bangun sebelumnya, bahwa www.asia.co.id juga cukup lama untuk sekedar membangun citra domain tersebut. Menggunakan izin usaha resmi, www.monggo.co.id ingin kedepan memiliki CMS sendiri yang melibatkan developer dalam negeri.
Harus jujur dia suami dari Ny.Eka Susiani alumni UNIB tahun 2003 yang terus membantu pengembangan bisnis yang sedang dirintisnya, bahwa bukan hal mudah untuk membangun sebuah situs yang dapat diterima pasar secara luas. Biaya iklan, pembuatan aplikasi mobile dan domain dan sewa hosting membutuhkan tidak sedikit biaya. www.monggo.co.id percaya bahwa dengan keseriusan yang dibangun, optoimis akan menjadi salah satu situs jejaring sosial lokal yang memiliki pasar pengguna.

Pasar pengguna internet masih terbuka sangat luas di indonesia, tren geopolitik dan berbagai hal sosial masyarakat dunia yang terus berubah secara cepat akan memberi peluang bahwa www.monggo.co.id akan mampu bertahan.

Perusahaan yang awalnya hanya direncanakan untuk membangun industri perkopian ini terus mengembangkan rencana usahanya. Salah satu merek kopi yang diproduksi adalah kopi Redjang. Kopi Redjang pun terus mengeluarkan produk lainnya dengan merek greatfine, muaro bukit siwiga,Lethong coffee,exoca yang masih bagian dari merek induk kopi redjang.

Awal rencana berdirinya situs www.asia.co.id adalah untuk memasarkan produk perusahaan menggunakan situs sendiri, tetapi lebih berbentuk situs marketplace agar produk komunitas kopi dapat dipasarkan  secara bersama-sama.

Bisnis selalu ingin tampil lebih dominan dalam persaingan pasar. Di era internet pemasaran online menjadi salah satu terobosan besar agar bisnis dan produk yang dihasilkan segera diketahui dunia luas dan menemukan pasar potensialnya. Salah satu cara yang dilakukan oleh putra jawa kelahiran sumatera utara alumni SMU Negeri 1 Bandar kab. Simalungun 2002 ini adalah dengan memperkenalkan produknya lewat situs blog para blogger profesional bengkulu. Hal ini melahirkan ide baru, mengapa tidak membangunsitus blog sendiri dan memperkenalkan kepada dunia secara mandiri. Dan berdirilah http://news.asia.co.id sebagai corong utama pemasaran digital.

Saat ini www.monggo.co.id telah memiliki aplikasi webview yang dibangun menggunakan perangkat lunak android studio oleh Erwin Kurniarahman dan berjalan dengan baik diperangkat android. Bersama Ny.Eka Susiani, wanita yang dinikahi 27 Juli 2007 silam dan rekan bisnisnya Harmoko Mustovo dia sangat optimis bahwa industri kopi, situs jejaring dan berbagai situs lainnya termasuk http://travel.asia.co.id akan menjadi satu sinergi bisnis yang mampu memberi value yang diharapkan.

Kepercayaan diri ini bukan tanpa alasan. Mereka bertiga dan rekan lainnya adalah alumni universitas-universitas ternama di propinsi bengkulu. Ny.Eka Susiani adalah alumni Universitas Negeri Bengkulu, Harmoko Mustovo adalah alumni Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan M.Yusro Budiono dari Universitas Dehasen Bengkulu.

M.Yusro Budiono yang juga salah satu murid dari pondok pesantren Darus shofa li ahli wafa pimpinan DR.Syahidus Syeikh Salman Da’im yang saat ini yayasan tersebut di pimpin oleh penerusnya yakni putra DR.Syahidus Syeikh Salman Da’im, Dr. Syeikh Muhammad Nur Ali Alkholidi. M.Hum memiliki landasan spiritual yang cukup kuat sebagai pondasi berkarakter bisnis yang ulet dan jujur.




A.    Latar Belakang
                        saat orang membicarakan tentang Jepang, yang terbayang adalah negara yang modern, negara yang penduduknya memiliki kedisiplinan yang tinggi, maju, kaya, dan entah apalagi sebutannya yang pada intinya tergambar sebagai sebuah negara yang dapat disejajarkan dengan negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat . Kenyataannya, memang demikian . Akan tetapi, kemajuan Jepang sebagai negara modern dapat dikatakan sebagai "pendatang baru" apa bila dibandingkan negara-negara tersebut di atas . Hal ini dapat dibuktikan melalui contoh, misalnya kata "masyarakat" dalam bahasa Jepang disebut shakai. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun-tahun permulaan
                        zaman Meiji (1868-1912) . Tidak adanya istilah itu sendiri untuk mengungkapkan gagasan tentang "masyarakat" merupakan petunjuk yang jelas tentang keadaan lebih dari satu abad yang lampau: Jepang bukanlah suatu masyarakat modern (Tadashi, 1988:1) . Hal seperti inilah sebetulnya yang membuat negara-negara lain merasa kagum terhadap Jepang. Bagaimana tidak, dalam tempo kurang lebih satu abad, Jepang sebagai negara miskin akan sumber daya alum, di dalam negeri penuh dengan kekacauan, terisolasi dengan dunia luar kurang lebih dua setengah abad, dapat disejajarkan bahkan dalam bidang ekonomi melebihi negara-negara yang sudah maju . Namun, masyarakat Jepang Modern tidak akan lahir apa bila tidak ada satu proses yang sangat penting yang terjadi pada masa sebelum Meiji, yaitu masa Edo Bakufu.
                       



            Rumusan Masalah   
1.      Bagaimana Keadaan masa pemerintahan Bakufu, Daimyo dan Samurai?
2.      Bagaimana keadaan di masa Meiji?
3.      Bagaimana Keadaan masyarakat jepang masa Taisho ?























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Bakufu, Daimyo dan Samurai
1.      Pemerintahan Masa Bakufu/ Edo.
           Susunan masyarakat zaman Edo yang jumlah penduduk diseluruh negeri Jepang pada saat itu berjumlah sekitar 29 juta orang (Mikiso, 1992 : 34), terdiri atas empat kelas: kelas Militer atau Samurai (Bushi), Petani (Noomin), Tukang atau Pekerja atau Worker (Shokkoo), dan kaum Pedagang (Shoonin) . Keempat kelas sosial ini dikenal dengan singkatan Shi-Noo-Koo-Shoo. Sebenarnya, di samping keempat status sosial tersebut ada kelas lain, yakni kelas bangsawan atau dalam bahasa Jepang di sebut Kuge. Kaum bangsawan ini tidak termasuk pengklasifikasian sosial karena dari sisi kekuasaan kaum bangsawan tidak memiliki kekuasaan apa-apa (Dasuki, tanpa tahun :58) .
Pada zaman Edo Kehidupan Masyarakat dibagi menjadi 4 kelas, yaitu:
·         Shi : Bushi (samurai)
·         No : Nomin (Petani)
·         Ko : Kosakunin (Pengrajin)
·         Sho : Shonin (Pedagang)
Tokugawa memakai teori Konfusianis untuk membuat empat golongan dalam hierarki masyarakat (Shinokosho)

           Kekuasaan pada masa ini dipegang kaum Buke yang terdiri dari para Shogun dan para Daimyo yang berjumlah kira-kira 270-an Daimyo. Golongan Samurai adalah prajurit yang menjadi pengikut para Shogun dan Daimyo yang berjumlah sekitar dua juts orang . Kaum samurai ini selain bekerja dalam bidang militer, mereka juga melakukan pekerjaan administrasi dalam pemerintahan Bakufu dan Daimyo.
           Urutan berikutnya berdasarkan status sosial adalah kaum petani. para petani sebagai penopang hidup para Buke dan Kuge. Kebutuhan hidup mereka sangat bergantung pada pasokan beras dari para petani . Namun, dari realita yang ada kaum petani adalah kaum yang paling menderita dibandingkan kelaskelas masyarakat lainnya . Hasil panen mereka harus disetorkan kepada para penguasa sebagai pajak. Sementara itu, kehidupan mereka sendiri begitu menderita . Para perajin, pekerja, dan pedagang sebagian besar hidup dan tinggal di kotakota . Secara teori kelas, mereka berada pada urutan di bawah para petani dan golongan militer. Pada kenyataannya, kedudukan mereka dilihat dari segi perekonomian jauh lebih makmur daripada kaum petani dan kaum militer, terlebih setelah pemerintah Bakufu mengeluarkan kebijaksanaan tentang Sankinkotai, yaitu kewajiban bagi para Daimyo untuk tinggal selama kurang Iebih satu tahun di kota Edo dan di daerahnya sendiri . Sementara itu, keluarga, anak- anak, dan istrinya harus tetap tinggal di Edo sebagai jaminan . Para Samurai sebagai prajurit Daimyo ikut menyertai tuannya ke mana pun para Daimyo itu pergi . Keberadaan para Daimyo dan para prajuritnya di kota Edo, para pedagang dan perajin sibuk melayani kebutuhan para Daimyo dan para prajuritnya . Mereka mendapatkan keuntungan yang besar dari hasil perdagangan dan hasil usahanya, sehingga kehidupan para perajin dan kaum pedagang mengalami peningkatan dan kedudukannya dad had ke had semakin penting .
           Terlebih setelah pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan dalam bidang moneter, yaitu dengan diberlakukannya sistem ekonomi baru yang menggantikan sistem .barter beras atau padi dengan sistem pertukaran berupa uang. Kaum pedagang menguasai perdagangan yang berdampak pengaruhnya di masyarakat semakin kuat (Dasuki, tanpa tahun : 59) . Sementara itu, kaum Samurai sebagai prajurit semakin terpuruk dengan lilitan utang kepada kaum pedagang. Begitu pula kaum petani hidupnya semakin menderita dengan ditetapkan pajak berupa uang menggantikan pajak berupa beras yang jauh Iebih memberatkan para petani.           
           Seperti telah disinggung pada bahasan sebelumnya, selain kelas-kelas sosial di atas, ada juga kelas yang dianggap berada di luar kelas yang sudah baku yang kedudukannya sebagai kelas masyarakat yang hina karena dianggap sebagai sampah masyarakat. Kelas masyarakat ini disebut kaum Eta (unclean people) atau Hinin (nonhumans). Mereka adalah kaum penjahat dan pengacau keamanan (Mikiso, 1992:34).
           Nilai positif diberlakukannya Sankinkotai adalah terjadinya dinamika kehidupan masyarakat Jepang, terutama yang berada di kota-kota besar.Transportasi semakin bertambah dan ramai, perdagangan semakin ramai yang dengan sendirinya bertambah banyaknya kaum pedagang yang berdampak bertambah pula orang-orang kaya dalam masyarakat . Bertambah makmurnya kehidupan kaum pedagang dan tukang karena adanya perkawinan campuran antara mereka dan kaum bangsawan serta dengan kaum militer sehingga melahirkan generasi yang kuat dalam bidang perekonomian sekaligus dalam bidang kekuasaan yang sangat berpengaruh kedudukannya dalam pemerintahan dan masyarakat.
           Lahirnya generasi yang demikian berdampak pada kebijakan pemerintahan 204 Tokugawa yang militer. Pemerintah menyadari bahwa untuk menjalankan pemerintahannya diperlukan manusia-manusia yang andal sehingga diperlukan cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan mendorong masyarakat untuk menguasai ilmu pengetahuan . Akibat nyata dari suasana kondusif yang demikian berdampak pada kemajuan di berbagai sektor, seperti terbentuknya pasar nasional, perbaikan dalam bidang komunikasi, majunya sektor pendidikan, dan perekonomian . Semua ini menandakan bahwa pads masa ini telah terjadi perubahanperubahan sosial dan budaya yang luar biasa. Banyak di antaranya membawa pengaruh pada Iahirnya Restorasi Meiji yang menjadi tonggak Iahimya "bayi" Jepang yang modern (Hari Adji, 1995 :19) .
2.      Kebijakan Politik terhadap para Daimyo
        Kebijakan politik yang diterapkan Tokugawa terhadap para daimyo adalah para daimyō diambil sumpahnya secara tertulis kemudian mereka dibagi menjadi tiga kelas: Shinpan Daimyo, yaitu daimyō yang paling dekat dengan keluarga Tokugawa dan punya hubungan langsung dengan keluarga Tokugawa. Daimyō kelas ini memegang posisi penasehat dalam pemerintahan dan diberikan wilayah yang dekat dengan Edo.
        Fudai Daimyō, yaitu daimyō yang terdiri dari pengikut setia Ieyasu sebelum Ieyasu berkuasa yaitu sebelum perang Sekigahara. Daimyō. Para daimyo Fudai itu menduduki propinsi – propinsi di Jepang Tengah dan Timur di daerah daerah yang dijalin perhubungan lalu lintas yang penting.Tozama Daimyō, yaitu daimyō yang terdiri dari pengikut Ieyasu setelah perang Sekigahara. Daimyō ini memiliki kekuasaan yang kecil karena ditempatkan di Jepang bagian barat, utara dan selatan yang jauh dari Edo.
        Para daimyo diharuskan bergillir mengunjungi Edo dalam waktu setengah tahun untuk membantu pemerintah pusat. Perekonomian para daimyō menjadi susah sehingga tidak punya tenaga untuk melawan shōgun. Kebijakan ini juga disebut sebagai Sankin Kotai yang diterapkan shogun Tokugawa ketiga, Iemitsu (1632 – 1651 ).
        Tokugawa Ieyasu menetapkan peraturan yang harus dipatuhi oleh para daimyō yang disebut Bukeshōhattō. Salah satunya adalah para daimyō dilarang memperkuat pasukannya atau mendirikan benteng tanpa sepengetahuan pemerintah pusat (Bakufu).
        Pada Shogun Tokugawa ke -4 Ietsuna ( 1651-1680 ), diterapkan kebijakan jika daimyo kembali ke daerah harus meninggalkan anak isteri mereka di Edo sebagai saudara. Ditetapkan pula bahwa para daimyo dilarang keras menghadap ke istana Tenno di Kyoto. Bakufu juga membatasi wewenang pihak istana dengan peraturan Kugeshōhattō. Tennō dan golongan Kuge (bangsawan) dan daimyo diberikan penghasilan sesuai kedudukan mereka tapi tidak diberikan tanah.
        Sebenarnya para daimyo di daerah mereka masing masing mempunyai otonomi yang luas, mereka ada dibawah pengawasan keras dari pusat Bakufu. Tokugawa menerapkan konfusianisme sebagai alat untuk memelihara kestabilan dalam pemerintahan dan masyarakat. Sebagai permulaan dari politik ini dapat dianggap tindakan Ieyasu konfusianis.
3.      Samurai dan Bushido Pada Awal Pembentukannya.
        Antara Samurai dan bushido ada hubungan yang sangat erat dalam perkembangan sejarah Jepang. Terbentuknya golongan Samurai terkait erat dengan melemahnya pemerintahan pusat pada periode Heian (794-1192) sehingga banyak keluarga aristokrat yang tidak mendapatkan kedudukan di pusat menyingkir ke daerahdaerah dan membentuk kelimpok-kelompok mandiri yang menguasai daerah-daerah. Para birokrat yang menduduki daerah-daerah salaing bersaing untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih luas, sehingga mereka memerlukan pasukan pengamanan dari penduduk lokal. Pasukan pengaman yang dipersenjatai ini dikenal sebagai Samurai. Kelompok aristokrat yang terkenal saat itu adalah keluarga Taira dan Minamoto.
        Kata samurai awalnya berasal dari bahasa Jepang kuno “samorau” dan kemudian menjadi “saburai” dan selanjutnya menjadi “samurai”, yang artinya pelayan yang mengabdi pada majikannya. Pada periode Edo Samurai juga disebut sebagai “bushi” yang artinya orang yang bersenjata atau prajurit.
        Pada masa awal pembentukannya pada periode Kamakura, Samurai merupakan kelompok sosial strata atas yang sangat dihormati. Tugas Samurai selain untuk pengamanan dan pertahanan di daerah, juga bertugas di bidang administrasi dan kemasyarakatan, seperti menentukan dan memungut pajak serta mengatur tata kemasyarakatan. Dalam melaksanakan tugasnya para Samurai memakai perlengkapan khas Samurai. Pada awal pembentukannya para Samurai menggunakan sejata yang lasim digunakan saat itu yaitu busur dan panah (yumi). Pada perkembangannya kemudian Samurai menggunakan pedang (katana) sebagai senjata utama yang dianggap paling efisien . Pada perkembangannya kemudian pedang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan para Samurai. Bahkan dalam falsafah Samurai pedang adalah roh dari Samurai yang harus diperlakukan dan dijaga sebagai kehormatan (Swandana, 2009 :161 ).
        Pedang bagi seorang Samurai mengandung aspek spritual tentang ketinggian moral dan kedalaman jiwa dan hanya digunakan untuk membela kehormatan dan harga dirinya. Penciptaan pedang harus mempertimbangkan keserasian unsur-unsur materi dan spriritual yang selaras dengan ajaran Zen. Dalam menjalankan tugas keprajuritan bushido tidak hanya memperhatikan hal-hal yang bersifat lahiriah (fisik) saja, tetapi aspek batiniah (mental) juga menjadi fokus perhatiannya. Pedang yang diciptakan dari bahan terbaik tidak akan berarti bila penggunanya tidak memiliki ketenangan dan kontrol batin yang tinggi ketika menggunakannya. Dalam setiap pertempuran pada prinsipnya para Samurai bertujuan untuk unggul dan memperoleh kemenangan, tetapi hal itu tidak berarti menang dengan kekuatan fisik saja. Keunggulan fisik lebih sempurna bila ditopang dengan upaya pengendalian diri yang kuat. Tujuan utama seorang Samurai adalah mencapai mushin yaitu mengosongkan pikiran dalam penghayatan dualisme tentang hidup dan kematian.
        Ada dua jenis pedang yang digunakan Samurai yaitu pedang panjang dan pedang pendek. Fungsi dua pedang ini berbeda, yaitu pedang panjang untuk menyerang dan bertahan dari serangan musuh, sedangkan pedang pendek berfungsi untuk menusuk dirinya bila kehormatan dan harga dirinya terancam.Sejalan dengan peningkatan status Samurai, sebagai elite yang dihormati dan menyandang peran penting dalam kehidupan masyarakat, Samurai sebagai bushi mengembangkan etika bushido yang sarat dengan nilai-nilai moral yang tinggi.
        Bushido berasal dari kata “bu” yang atinya beladiri, “shi” artinya Samurai (orang) dan “do” artinya jalan. Secara sederhana bushido berarti jalan terhormat yang harus ditempuh seorang Samurai dalam pengabdiannya (Benedict,1982 :335). Bushido tidak sekedar berupa aturan dan taracara berperang serta mengalahkan musuh, tetapi memiliki makna yang mendalam tentang perilaku yang dihayati untuk kesempurnaan dan kehormatan seorang Samurai (prajurit). Dalam etika bushido terkandung ajaran-ajaran moral yang tinggi terkait dengan tanggung jawab, kesetiaan, sopan santun, tata krama, disiplin, kerelaan berkorban, pengabdian, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berpikir, kesederhaanan, kesehatan jasmani dan rohani, kejujuran, pengendalian diri (Tsunenari dan Nakamura,2007 : 53-56)
        Dalam menjalankan bushido seorang Samurai dituntut total dalam pengabdiannya. Bahkan kematian yang sempurna dan mulia adalah kematian dalam rangka membela kaisar (Tenno) dan Negara. Bushido merupakan etika yang dipengaruhi oleh ajaran Budha Zen. Zen merupakan moral dan filosofis Samurai. Zen sebagai dasar moral karena Zen merupakan agama dan kepercayaan yang mengajarkan bahwa tidak ada tenggang waktu (jeda) dari perbuatan yang telah dimulai dan harus diselesaikan. Sebagai filosofi Zen menekankan bahwa tidak ada batas antara hidup dan mati. Oleh karena Zen tidak mentoleransi pemikiran dan sangat menghargai intuisi, maka filosofi Zen ini sangat digemari oleh kaum Samurai. Secara sederhana etika Zen adalah “langsung, percaya pada diri sendiri dan memenuhi kebutuhan sendiri”. Meditasi yang menjadi tradisi Zen sangat cocok bagi Samurai yang kehidupannya sebagian besar dihabiskan dalam perenungan dan kesunyian (Mattulada,1979 : 84).
        Selain dilandasi oleh etika Zen, bushido juga dilandasi oleh etika Confusius dari Cina yang masuk ke Jepang pada masa pemerintahan kaisar Shotoku pada tahun 593 (periode Yamato). Ajaran Confusius mengatur harmonisasi hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dengan mahluk lain yang ada di dunia dan hubungan manusia dengan dengan alam. Selain itu ajaran Confusius menekankan hubungan yang harmonis antara sisi fisik dan batin manusia. Prinsip keseimbangan ini berlaku dari jaman dahulu sampai sekarang, karena orang-orang Jepang menyadari bahwa kehidupan fisik dan spiritual memiliki peran yang sama-sama penting. Perlakuan yang bertujuan untuk memisahkan keduanya atau membiarkan ketidakharmonisan keduanya berpotensi menimbulkan bencana dan kerusakan ( Boye de Mente, 2009: 27 ). Selain didasari oleh ajaran Zen dan Confusius, bushido juga dipengaruhi oleh ajaran Shinto yang mengajarkan kesetiaan kepada Kaisar (Tenno) dan negara (Suryohadiprojo,t.t.: 49).
        Kristalisasi ajaran bushido seringkali diekspresikan oleh Samurai dalam seppuku, yaitu tindakan menusuk atau merobek perut dengan pedang dengan tujuan untuk mempertahankan kehormatan atau harga diri. Seppuku bukan sekedar harakiri (tindakan bunuh diri) yang kosong tanpa makna, tetapi merupakan tindakan yang mulia ketika seorang Samurai tidak dapat menegakkan kehormatannya semasa hidup, maka ia lebih memilih kematian. Cara pandang samurai terhadap kematian adalah ibarat bunga sakura yang indah, tetapi keindahannya tidak berlangsung lama. Samurai lebih memilih hidup yang singkat tetapi bermakna (indah) dari pada hidup panjang yang tanpa kharisma.
        Kedudukan Samurai pada periode Kamakura demikian penting karena pada periode tersebut banyak terjadi pertempuran antara kelompok-kelompok keluarga yang menginginkan kekuasaan tertinggi sebagai Shogun. Seiring dengan semakin menguatnya kedudukan dan status para Samurai, maka semangat bushido yang terbentuk pada periode Kamakura semakin mantab dijalankan oleh para Samurai pada periode Muromachi (1333-1573), berlanjut pada periode Azuchi Momoyama (1573- 1603) dan periode Edo (1603-1867).
       
       
       

B.     Kondisi Masyarakat Jepang Era Meiji
            Menjelang runtuhnya rezim Tokugawa Bakufu akibat krisis politik, krisis ekonomi, dan krisis kepemimpinan yang diakibatkan ketidakberdayaan pemerintah mempertahankan dan menjaga keamanan nasional dari tekanan asing, terutama dari Amerika Serikat di bawah pimpinan KomodorPenyyang ingin memaksa Jepang membuka did dan ketertutupannya terhadap dunia luar selama kurang lebih dua setengah abad, menimbulkan ketidakpuasaan pada sebagian besar rakyat khususnya kaum militer berhaluan ultranasional yang membela dan menjunjung tinggi kaisar (Sonnoo). Para penentang Bakufu meneriakkan yel-yel anti -Bakufu dengan slogan Sonnojoi (Revere the Emperor, Expel the Barbarians) ; hormati Kaisar dan usir kaum Barbar (Umegaki, 1988 :93-94) .

            Pada 1868, suatu kelompok di dalam pemerintahan kaum ningrat militer Jepang mengambil alih kekuasaan, yang kemudian mulai melancarkan program secara revolusioner yang dikenal dengan Restorasi Meiji (Meiji Ishin) . Orang-orang revolusioner ini menolak usul-usul tradisional untuk mengatasi krisis politik yang ditimbulkan Commodore Perry tahun 1853 . Mereka kemudian menumbangkan rezim Tokugawa, meniada kan hak-hak istimewa golongan mereka sendiri, dan tanpa berpikir panjang mengorbankan unsur-unsur tradisi Jepang . Mereka menyambut tantangan kekuatan Barat dengan menghancurkan struktur lama dan menegakkan tatanan politik dan sosial baru yang diilhami oleh peradaban Barat, lawan mereka. Selama masa kepemimpinan aktif mereka, yaitu dari 1868 sampai pergantian abad, Jepang telah melampaui suatu masa peralihan dari negeri yang sejak dahulu kala agraris menjadi suatu negeri yang mendekati ekonomi industri (Pyle, 1989 :1) .
           
            Sejak awal zaman Meiji (1868-1912) sampai Perang Dunia II, pertanian merupakan pekerjaan hampir selama hidup bagi 5,5 juta keluarga atau 13,7 juta orang penduduk atau sekitar 80% dari total penduduk Jepang pada masa ini (Tadashi Fukutake, 1989 :1) . Penduduk Jepang pada masa Restorasi Meiji berjumlah sekitar 34 juta jiwa . Setelah itu jumlah penduduk Jepang cepat sekali berkembang seiring dihapuskannya kebijaksanaan larangan pertambahan penduduk pada masa Tokugawa (Tadashi, 1988:16) .
            Kebijakan pemerintahan Meiji yang berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan adalah dihapuskannya pengelompokkan masyarakat yang terdiri atas empat kelas (Shi-Nou-Kou-Shou) yang diberlakukan semasa Tokugawa. Pada 1868, para Daimyo dan kaum bangsawan istana diklasifikasikan sebagai Kazoku (kelas bangsawan). Samurai kelas tinggi dikenal dengan istilah Shizoku (kelas Samurai), Samurai kelas bawah dikenal dengan sebutan Sotsuzoku (Fuad, 2003:22).
            Dalam perkembangan selanjutnya, pembagian kelas sosial dalam masyarakat diterapkan sistem tiga kelas yang diklasifikasikan menjadi Kazoku, Shizoku, dan Heemin (rakyat biasa) . Dalam perkembangannya, lambat laun jarak ketiganya sudah tidak tampak. Misalnya, pada 1870 rakyat biasa diizinkan memakai nama keluarga seperti halnya kedua kelas lainnya, dan pada 1871 perkawinan antarkelas diperbolehkan yang pada masa rezim Tokugawa, sangat dilarang (Fuad, 2003 :23) .
              
C.    Kondisi Masyarakat Jepang Era Taisho
            Kaisar Taisho naik tahta menggantikan Kaisar Meiji yang meninggal pada 1912, sekaligus menandakan permulaan zaman Taisho yang berlangsung hingga 1926 . Setelah zaman Meiji, industrialisasi berarti pembentukan kota-kota industri baru yang menyebabkan terjadinya konsentrasi penduduk ke kota-kota . Meskipun aspek-aspek fisik dan material pertumbuhan itu menimbulkan terjadinya masyarakat perkotaan, namun ciri komunal yang mendalam tetap hidup dalam struktur sosial kota-kota Jepang . Penduduk yang mengalir ke kota-kota besar tidaklah berubah menjadi warga negara modern, tetapi tetap mempertahankan ikatanikatan mereka dengan daerah-daerah pedesaan asal-usul mereka (Fukutake,1988 :5),
            Pada zaman ini jumlah penduduk Jepang sekitar 50 juta jiwa lebih . Sampai dengan Penang Dunia II, pertanian merupakan pekerjaan hampir selama hidup bagi 5,5 juta keluarga atau 13,7 juta orang penduduk . Sejak 1870, petani merupakan 80% tenaga kerja, tetapi dengan pertumbuhan penduduk, angka itu menurun, meskipun jumlah petaninya secara absolut tetap sama (Tadashi, 1989:1) .
            Pertambahan penduduk hanya terjadi di daerah-daerah tempat penduduk tertarik terhadap industri-industri yang terdapat di kota-kota. Oleh sebab itu, ciri masyarakat pedesaan Jepang yang pramodem itu hidup terus sampai jangka waktu lama (Tadashii, 1988:6) .
            Penghapusan hierarki status prajuritpetani-tukang-pedagang sejak zaman Meiji, pada taraf tertentu membawa dampak pada terbukanya saluran-saluran baru untuk mobilitas sosial . Dengan demikian, menciptakan syarat diperlukan untuk pengembangan industri modern .
            Kelas atas yang berkuasa sebelum perang secara garis besar terdiri dari golongan kapitalis kaya, para pemilik tanah yang luas, serta politikus-politikus dan pejabat-pejabat tinggi . Kedudukan mereka mantap karena didukung oleh sistem kekaisaran . Pihak- pihak yang erat berkaitan dengan kelompok ini adalah para pengusaha menengah dan kecil sebagal pemilik pabrik-pabrik kecil dan toko-toko besar yang bersama dengan para pemilik tanah berukuran menengah dan kecil merupakan kelas menengah kecil yang berada tepat di atas kelas petani, pekerja, pedagang-pedagang kecil, dan golongan perajin . Kelas menengah baru yang berupa karyawan pemerintah, pegawai dalam perusahaan-perusahaan besar, guru-guru, dan para pekerja profesional Iainnya tidak hanya lebih kecil jumlahnya daripada kelas menengah lama, tetapi juga sepenuhnya masuk menjadi satu keseluruhan struktur kelas pelapisan sosial (Tadashi, 1988 :8).
            Masyarakat Jepang pada masa ini diatur menurut kehendak kelas atas, yang didukung di belakangnya oleh kekuasaan kaisar. Serikat-serikat petani dan buruh tidak mampu menampilkan din karena selalu dihambat dan dilarang oleh para penguasa . Sulit bagi kelas-kelas bawah untuk dapat mengadakan perlawanan terhadap kebijakankebijakan tidak adil yang dirasakan mereka sehingga kelas-kelas bawah yang besar jumIahnya hidup dalam kemiskinan yang tak kunjung berubah.
            Menjelang Perang Dunia I, penguasa melancarkan program-program indoktrinasi masa sebelum perang dengan maksud mendinkan pemerintahan imperialis dalam sistem kekaisaran . Hal ini membuat kehidupan kelas bawah menjadi lebih mendenta . Namun, di balik perubahan-perubahan politik serta keterlibatan Jepang dalam PD I sampai Jepang berada di pihak yang menang dalam perang tersebut, berdampak pada pertumbuhan dalam bidang perekonomian dan perkembangan sosial yang signifikan . Negara-negara Eropa yang terlibat dalam Perang Dunia .I, menyerahkan pasar-pasar Asia mereka kepada Jepang sebagai pemenang perang yang membuat Jepang menjadi Iebih makmur. Kemenangan negara-negara demokrasi dalam perang ini menimbulkan gelombang baru ide-ide dan cara-cara liberalisasi dad Barat di dalam negen Jepang (Reischauer, 1982 :116).
            Menjelang akhir masa Taisho yaitu sekitar 1925, di seluruh Jepang terdapat 34 universitas, 29 sekolah menengah tingkat atas, dan 84 sekolah profesional . Sekolah menengah tingkat pertama khusus untuk laki-laki mengalami peningkatan yang signifikan dari 218 pada 1900 menjadi 491 pada 1924. Sekolah menengah pertama husus kaum wanita mengalami loncatan yang cukup berarti, yakni dari 52 sekolah pada tahun 1900 menjadi 576 sekolah pada 1924 . (Mikiso, 1992 : 221 . k Dengan melihat data-data tersebut, dapat dilihat bahwa masyarakat Jepang pada 1920-an sudah banyak yang menikmati dunia pendidikan . Banyaknya orang yang mengenyam pendidikan dengan sendinnya tenaga kerja yang terserap di berbagai lapangan kerja adalah para pekerja yang berpendidikan dan berkualitas.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Zaman Tokugawa Bakufu yang Iebih dikenal dengan sebutan Zaman Edo, menjadi titik tolak keberhasilan bangsa Jepang menjadi sebuah negara modem . Bangsa Jepang tidak akan berhasil dalam proses modemisasinya apa bila tidak dilandasi fondasi yang kuat yang dibangun pada masa Edo .
             Masyarakat zaman Edo terbagi menjadi empat kelas sosial, yakni kelas Militer atau dikenal dengan kelas Samurai (Bushi), kelas Petani (Noomin), kelas Tukang atau Pekerja (Shokkoo), dan kelas Pedagang (Shoonin) . Keempat kelas sosial yang ada di masyarakat ini dikenal dengan sebutan ShiNoo-Koo-Shoo. Dalam perkembangan selanjutnya pembagian kelas sosial masyarakat Jepang ini terbagi menjadi tiga kelas yang terdiri dari Kazoku, Shizoku, dan Heimin. Pada zaman Meiji pembagian kelas ini dihilangkan meskipun pads praktiknya masih tampak dengan jelas adanya kelas-kelas tersebut dalam kehidupan sehari-hari .



B.     Saran
1.      Kritik yang membangun sangat penulis harapkan, dari pembaca dengan mengkoreksi kesalahan dalam penulisan karya tulis ini.
2.      Sebaiknya pembaca membandingkan kembali dengan referensi yang lain, untuk mengetahui kebenaran referensi yang penulis pergunakan sebagai kajian pustaka, bisa jadi referensi kejadian yang penulis cantumkan dalam makalah ini telah di ganti/di bantah/dihapuskan oleh referensi lain yang lebih di akui kebenarannya.

DAFTAR PUSTAKA
            Kedutaan Besar Jepang. 1989 . JEPANG: Sebuah Pedoman Saku . Jakarta: Foreign Press Center.
Sejarah Asia Timur
            Suherman. (2004). Dinamika Masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II. UGM Humaniora. Vol 16. No . 2. 201-210.


Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.