Articles by "Politic"

Showing posts with label Politic. Show all posts




Perjalanan bangsa indonesia ini sudah sangat panjang. Tetapi perjalan indonesia sebagai sebuah negara masih sangat muda. Baru satu generasi untuk ukuran rata-rata produktif. Terbukti meskipun mereka sudah berada pada kisaran usia yang cukup renta. Setidaknya sebagai sebuah saksi momentum kebangkitan bangsa ini untuk mendeklarasikan sebuah negara mereka sempat hadir. Mungkin ingatan mereka masa itu belum terlalu cukup kuat untuk merekam sebagian besar peristiwa jika mereka lahir dikisaran tahun 1940-an, tetapi mereka yang lahir sebelum tahun 1930-an tentu lebih memiliki tingkat ingatan sejarah yang cukup matang. Sayangnya usia saat ini merengkut sebagian besar ingatan mereka karena usia mereka tentu sudah di atas 80-an tahun.

Bagaimana dengan peristiwa 1926, era 1948 dan masa 1965 hingga tragedi 1998 ?. untuk mereka yang menyaksikan era 1965 pada umumnya masih memiliki kualitas ingatan yang sempurna tentang memori sebuah peristiwa kejahatan politik masa itu

Kita semua tidak sepenuhnya sependapat bahwa “Ahok” adalah penjahat dalam kasus yang beliau alami. Bahkan Ahok justru memang bukan penjahat. Tetapi tergantung kita menggunakan sudut pandang siapa, tingkat kontras pandangan dan kejujuran pada kepentingan apa kita melihat dan memberi hukum pada apa pun objek yang menjadi alasan .  ini adalah hukum “relativitas”. Setiap orang boleh mengemukakan pendapatnya menurut sudut pandang dan kapasitas pengetahuannya. Yang menjadi tolak ukur ketika pendapatnya akan dijadikan rujukan publik adalah, sudut pandang yang didasari oleh hukum relativitas tersebut harus bebas dari sentimentil dan jujur.

Banyak para pengamat politik di media elektronik saat ini adalah pengamat yang tidak memiliki karakter mental yang kuat independensinya. Secara kasat mata, Boni hargens misalnya. Tidak ada keluesan dalam setiap teknik pengutaraan data. Sehingga setiap argumentasinya hanya berdasar pada pelepasan emosi yang ini menjadi alasan mengapa Prof.Rocky gerung memberi footnote sebagai “dungu”. Sebuah tendensi dan estetika buruk bagi seorang pengamat yang memperoleh label tersebut.

Dari sudut pandang manapun setiap mereka pasti memiliki kepentingan pada kekuasaan yang telah menjadi fitrah manusia. Hanya ragam latar belakangnya yang membuat seolah-olah ada pelaku kejahatan dan ada korban kejahatan. Keduanya memiliki kedukukan yang sama pada point of view masing-masing pihak.

Ir.Basuki tjahaya purnama atau Ahok tergantung dari sudut pandang siapa dan frame siapa yang digunakan sebagai subjek penilaian.  Tersebar luasnya rekaman Buni Yani yang berimplikasi pada kontradiksi publik secara luas dapat diadili dengan hukum relativitas baik dari mereka yang pro maupun yang kontra terhadap peristiwa ini. Bagaimana framingnya dan siapa korban sebenarnya serta siapa pemulung yang paling “hoki” dalam hal ini. Semuanya akan bermuara pada “Cuan” dan “Cien”. Penulis juga tahu bahwa tidak semua sependapat dengan opini ini. Tetapi berusaha menyajikan sebuah pendapat yang diharapkan akan mampu menjadi “Radiator” yang bebas dari kepentingan yang memihak.

Ir.Basuki tjahaya purnama menjadi momentum bagi sebagian kelompok yang selama ini merasa terdiskriminasi untuk bangkit. Tetapi juga menjadi momentum bagi para penunggang kuda hitam yang siap mendulang keuntungan besar tanpa pengorbanan yang begitu berarti. mungkin ini juga bagian dari susunan rencana besar yang dibangun sangat cukup lama bagi kelompok minoritas untuk tampil sebagai superior. Kemudian tatanan sosial dan tatanan politik menjadi berubah persis seperti rencana yang telah mereka agendakan. Politik dan momentum, bahwa tim dari kelompok kecil secara psikologi memiliki tingkat soliditas yang lebih kuat dari pada kelompok besar karena mereka lebih mudah terjebak pada euforia.

Sejarah sangat cerdas membuktikan berbagai peristiwa penting yang saat ini menjadi monumen rujukan banyak orang baik secara sadar maupun tisdak sadar. Bahwa Musa atau Mosses mampu meruntuhkan kediktatoran yang hampir dianggap mustahil. Bahwa Muhammad dan pasukannya mampu memenangkan perang dengan jumlah tentara yang lebih kecil. Dan ini bisa menjadi mungkin bahwa indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar biasa hancur oleh kelompok kecil yang selama ini tidak terbayangkan. Jangan katakan ini mustahil dan dilihat secara tidak proporsional sehingga publik atau anda akan menilai penulis sebagai penyadang penyakit jiwa akut.

Kita selalu di beri sajian khas setiap musimnya pada hal-hal yang tampak nyata seperti kebangkitan komunisme atau pilihan lain yakni khilafah. Padahal bisa jadi bukan ini objek finalnya. Mungkin ada kelompok kecil yang telah membangun rencana kuat untuk mengganti sistem agama, sosial dan politik di indonesia. Sebelum negara kesatuan republik indonesia (NKRI) berdiri, telah berapa banyak negara yang ada di nusantara yang saat ini hanya ada dalam catatan sejarah dan nyaris dilupakan.

Setiap detik masyarakat di sibukkan dengan sajian informasi yang padat tentang isu komunisme dan isu khilafah. Kedua kubu seolah saling menunjukan eksistensinya. Para pengamat sosial dan politik cenderung memiliki amnesia pada kejadian yang baru berlalu 7 menit yang sebelumnya. Tidak memiliki konsitensi berfikir dan menyerahkan kedaulatan pribadinya sebagai “penjilat”. Tidak objektif. Padahal mungkin dan sangat hampir dipastikan ada “atom” sebagai kekuatan kecil yang akan menghancurkan dari dalam yang mereka saat ini tidak terlihat akibat dari framing-framing kedua kubu ini.

Dari sudut pandang pro islam, ahok adalah penjahat tetapi pahlwan dari pihak lain. Dan demikian juga pendukung khilafah yang menganggap kelompoknya adalah pahlawan sementara kelompok yang berseberangan menganggap mereka penjahat. Tetapi ada kelompok kecil yang menganggap kedua kelompok ini adalah pahlawan bagi mereka. Baik pendukung isu  khilafah maupun isu komunisme. Kelompok kecil ini tentu bukan dari pendukung komunisme maupun pendukung khilafah. Tetapi mereka bisa saja tiba-tiba muncul sebagai penunggang kuda hitam dan siap mendeklarasikan kelompok mereka sebagi penguasa. “Who is that ?’’.
Waspada dengan euforia terhadap apa yang sedang berpihak pada kita saat ini, waspada dengan euforia terpenjaranya Ahok tau berkuasanya Ir.Joko Widodo. Waspada terhadap euforia reuni 212 yang kesemuanya diklaim sebagai sukses besar terhadap momentum kebangkitan oleh masing-masing pendukung. Boleh jadi ini adalah proses seleksi alam. Bukan khilafah atau komunisme yang akan memperoleh peruntungan. Tetapi kelompok kecil yang saat ini masih dalam bentuk janin dan siap lahir. Siapa nama mereka ?. kita tidak tahu. Tetapi sejarah telah banyak memberi kesaksian terhadap peristiwa-peristiwa seperti saat ini beribu tahun yang lalu dan teori ini tetap memiliki relevansi.





“Kejahatan  seorang pemimpin suatu negara adalah bukan karena dia gagal memenuhi janji politiknya, tetapi karena dia tidak tahu untuk apa janji itu dibuat dan bagaimana cara mewujudkannya”.
Sistem demokrasi indonesia dan sistem penerapan politik praktis di indonesia menurut klaim banyak pihak adalah sistem demokrasi terbaik di dunia. Tetapi secara lebih halus sistem perpolitikan yang berlandas pada sistem demokrasi ini justru menjadi sistem skandal politik yang buruk sebagai sebuah sitem negara.

Politik yang hanya cenderung pada pencapaian kekuasan adalah sebuah kejahatan kemanusiaan. Sistem demokrasi terbaru di indonesia justru hanya melahirkan penjahat-penjahat baru. Siapa mereka ?. adalah mereka yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang pemimpin tetapi harus di desain sedemikian rupa agar tampak khas dan layak untuk kemudian didedikasikan sebagai seorang pemimpin. Dengan istilah lain mereka hanyalah agen dari sebuah persekongkolan atau konspirasi untuk sebuah kepentingan sekelompok kecil orang yang memiliki akses penuh pada sumber-sumber ekonomi vital. Boleh jadi mereka bukanlah seorang yang benar-benar paham pada komplektisitas sebuah permasalahan secara menyeluruh. Tentu ada aktor di belakang seorang pemimpin tersebut, ada desainer, melibatkan konsultan, ada agen dan akan ada korban dalam sebuah kejahatan politik transaksional.

Politik suatu negara secara luas bukan hanya pada siapa yang akan menjadi aktor utama yang siap menjadi dipublikasikan dan siapa aktor pengganti (stuntman) yang siap untuk menjadi korban dalam siklus politik praktis. Secara kasat mata sebagian pendukung terbagi pada beberapa kelompok sebagaimana mengutip “puzzle” dari Prof.Rocky Gerung dengan istilah pengelompokan “dungu satu, dungu dua, dungu tiga dan akan ada alternative lanjutan hingga multi dungu”.   

Rocky gerung menjadi trending topic  menjadi bulan-bulanan dari pihak yang awalnya setuju menjadi tidak setuju, dari yang tidak setuju menjadi setuju, dari yang tetap tidak setuju karena dasar emosional dan sentimentil kelompok dan ada yang makin setuju juga akibat kebosanan pada tatanan sosial dan politik yang berdampak pada kelompoknya.
Disisi lain, masyarakat terlanjur melihat fenomena ini sebagai fenomena kegilaan dan telah inkrah menjadi “gila”. Hal ini justru menyelamatkan mereka dari tuntutan hukum apa pun. Karena secara hukum orang gila tidak dapat di adili dan dihukum.  Dan sebagian kecil masyarakat yang masih dalam kategori waras tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan kemampuan untuk mengurus orang gila yang jumlahnya sangat fantastis.

Bayangkan betapa masyarakat kita sangat mudah melihat sesuatu bukan pada fakta yang telah memperoleh kajian ilmiah dan akademik. Sangat mudah masuk dalam euforia kegilaan masal. Dan akibatnya terbentuk sebuah sistem komunitas yang isinya adalah orang-orang gila. Yaitu orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk memimpin sebuah komunitas besar tanpa sadar akan kemampuannya. Orang gila tentu hilang rasa malunya dan orang waras tidak peduli dengan hal itu. Akhirnya keduanya terjerembab pada status yang sama “Gila”.

Para politikus membuat janji-janji politik yang sebenarnya secara ilmiah sulit dan mustahil diwujudkan hanya demi syahwat kekuasaan sesaat.  Dan jika mereka mengatakan tentang semua kualitas prestasi kebaikan mereka itu semua “bulshit”.

Layaknya seorang pemabuk. Mereka mengutarakan janji-janji tanpa dilandasi kesadaran penuh. Sehingga tidak mungkin janji itu dapat dipenuhi sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak memahami akar persoalan secara utuh. Maka ini adalah bentuk kejahatan kolektif yang dampaknya adalah bagi generasi selanjutnya 30 atau 50 tahun mendatang.




Seluruh media televisi nasional akhirnya tawaduk pada kekuatan tidak kasat mata. Mereka mengorbankan reputasinya dan memberi cacat tetap yang layak menerima tabungan premi asuransi sebagai korban yang mengalami cacat tetap. Siapa korbannya ?. para jurnalis. Apakah semua jurnalis juga terjebak dalam skandal dunguisme ?. boleh iya boleh tidak tergantung seberat apa kemampuan intelektul seorang pengamat untuk berargumentasi dengan berlandas pada kedaulatan pribadi. Secara pasti bahwa tidak ada satu manusia pun yang sungguh-sunggu merdeka dan berdaulat penuh atas dirinya. Nanti kita bicara dengan retorika hukum tuhan dan hukum agama. Semakin seseorang mengikatkan pada sesuatu semakin lemah tingkat independensinya sebagai makhluk yang berdaulat. Semakin mengeratkan diri pada kelompok yang sangat besar semakin kecil pula kedaulatan dan eksistensinya. Mungkin saat ini pilihannya hanya satu jika satu masih layak dikategorikan sebagai sebuah pilihan. “bagaimana mendapatkan manfaat ekonomi”.

Ketika bersandar pada filosofi “hidup adalah pilihan”, maka independesinya telah diserahkan kepada selain dirinya. Kecuali jika filosofinya “hidup adalah keputusan”. Meskipun tidak serta merta seseorang merdeka hanya karena secara latah mengambil sikap pada filosofi ke dua.

Para jurnalis kita saat ini sebagian besar tidak lebih dari seorang pekerja atau karyawan yang berkerja berdasar harga pesanan boss dan menakar kualitas produk berdasar harga kesepakatan. Dan mungkin sama sekali tidak ada proses tawar menawar , sehingga cenderung menjadi penjilat dan menjadi budak yang berkerja tanpa penghargaan. Maka sangat tidak asing jika hari ini para wartawan atau tenaga pers dapat dengan bebas menampakkan jati dirinya di depan publik seperti seolah-olah profesi jurnalis adalah profesi “zero risk”, padahal profesi jurnalis adalah profesi “high risk”. Mereka adalah teliksandi masyarakat dan resiko peran mereka di lapangan justru bisa lebih beresiko dibanding profesi seorang prajurit perang.

Hal ini yang menjadi sorotan. Ketika jurnalis kita saat ini hanya bekerja sebagai pegawai tukang fotocopy. Pegawai fotocopy tidak memiliki wewenang untuk mengkritik konsumennya. Dia hanya bekerja sesuai order dan sangat minim resiko. Kliping, cutting, atau bayar.“Begitu sangat memilukan”.

Indonesia dalam sebuah momentum besar peristiwa 02 Desember 2018 (212) yang tidak didokumentasikan oleh media televisi nasional di anggap sebagai sebuah peristiwa yang lebih ringan bobotnya dari peristiwa seorang ketua RT yang datang kerumah warga hanya untuk sekedar mengaktifkan tombol MCB dari posisi Off ke posisi On. Padahal peristiwa tersebut tidak memiliki urgensi yang berbobot untuk sebuah peristiwa yang harus dipublikasikan. Tetapi mereka memperoleh manfaat ekonomi jangka pendek yang mungkin sebagai amunisi utama untuk menyelamatkan perut anggota keluarganya. Sementara peristiwa berkumpulnya ratusan ribu orang adalah peristiwa penting. Ini adalah bentuk kejahatan jurnalistik.
Sayangnya setelah era orde baru. Pembodohan sistematik dalam dunia pendidikan seperti telah memperoleh sertifikasi halal yang tidak disadari. Dimana sikap kritik dianggap sebuah kejahatan pada negara. Negara yang lemah adalah negara yang anti kritik. Sebuah paham otoriter yang maha gila yang membungkam lawan-lawan politik dengan cara yang sangat kekanak-kanakan. Siapa korbannya ?. tentu sebagian besar masyarakat yang tidak paham politik atau mereka yang masa bodoh dengan kebutuhan akan politik. Ini wangat wajar jika seorang Rocky gerung menyebutnya sebagai sebuah ke “dungu”an nasional.

Lalu kemana peran lembaga pembangun moral selama ini termasuk agama. Ternyata agama juga masuk dalam lingkaran politik tetapi dalam pisisi yang lemah. Padahal landasan negara kesatuan republik indonesia (NKRI) adalah agama sebagai landasan dasar politik dan  terbentuknya rangkuman paham yang kemudian disepakati dengan nama  pancasila.

Sayangnya saat ini pancasila justru dipahami secara bias. Dan beberapa pokok ukuran justru dimanfaatkan oleh sekelompok golongan untuk memanipulasi paham tersebut. Bayangkan seseorang yang tidak memiliki kapasitas apalagi kualitas terhadap persoalan pada satu bidang tertentu justru meminta untuk memperoleh kepercayaan publik mengelola suatu permasalahan melalui bilik suara. Sangat buruk sekali akibatnya. Justru mereka yang memiliki kapasitas dan kapabilitas serta kualitas justru tidak memperoleh kesempatan untuk ikut berpartisipasi mengatasi sebuah persoalan.









Setelah dua periode ( 2004-2009 dan 2009-2014)mendedikasikan dirinya sebagai anggota legislatif di DPRD kabupaten kepahiang dari partai persatuan daerah (PPD). Pemuda asli suku rejang dari desa penanjung panjang kecamatan tebat karai yang berlatar belakang petani ini akhirnya bersedia untuk kembali turun ke gelanggang politik. Setelah absen berpolitik selama satu periode terakhir (2014-2019) akhirnya beliau bersedia turun kembali menggunakan perahu politik yakni partai nasional demokrat (Nasdem) untuk periode 2019-2024.

Dalam sebuah bincang-bincang ringan di kediaman beliau ternyata alasan beliau untuk kembali turun ke gelanggang politik sebagai anggota legislatif adalah karena prihatin terhadap  daerahnya khususnya kecamatan tebat karai dan beberapa kecamatan yang satu dapil yang kurang mendapat perhatian khusus karena tidak memiliki wakil di DPRD. Sehingga banyak aspirasi masyarakat tidak pernah sampai ke pemerintah. Dan hal yang sangat membuat beliau prihatin adalah banyak kepentingan-kepentingan politik yang mengabaikan aspirasi dari dapil yang tidak memiliki wakil di lembaga legislatif.

Secara kasat mata hampir seluruh program bantuan industri hanya terkonsentrasi ke wilayah tertentu saja. Seperti kecamatan kaba wetan. Padahal menurut beliau wilayah-wilayah lain juga memiliki konstribusi yang sama bahkan lebih besar terhadap daerah tetapi tidak mendapatkan perhatian serius. Demikian juga industri UMKM seperti industri bubuk kopi, bantuan alat-alat industri ringan hingga alat industri menengah hanya terkonsentrasi ke wilayah kecamatan kaba wetan. Padahal ada banyak industri sejenis yang pertumbuhan usaha mereka justru lebih besar. Di kecamatan kepahiang misalnya ada kopi kepahiang di pasar ujung, Putra coffee di imigrasi permu, sari rasa kopi di desa nanti agung, anita kopi di desa tebing penyamun, kopi redjang sebagai satu-satunya merek lokal kabupaten kepahiang yang kental membawa entitas lokal dan telah merambah pasar swalayan moderen tetapi kurang memperoleh perhatian pemerintah.

Melalui diskusi-diskusi yang intens dilakukan ini akhirnya bapak Bambang Asnadi akhirnya bersedia untuk turun kembali ke dunia politik demi menampung dan menyampaikan aspirasi masyarakat. Seperti di desa penanjung panjang dan penanjung panjang atas misalnya, dua desa ini masyarakatnya mulai terbuka untuk menjadi masyarakat produksi. Selain industri kopi bubuk merek kopi redjang yang ada di desa penanjung panjang atas. Di dua desa ini juga terdapat industri kerupuk pulli antara lain merek rajo bermani, cap burung kolibri dan cap ayam bangkok dan cap putri rejang dimana pelaku usaha kerupuk tersebut telah mengikuti pelatihan di dinas kesehatan untuk memperoleh sertifikat industri pangan dan agar produknya memiliki legalitas yang sah dan izin edar.

Para pelaku UMKM sering merasakan diskriminasi dari pemerintah daerah karena terkonsentrasinya bantuan alat-alat industri pada wilayah tertentu saja. Bahkan terdapat industri rumahan yang sudah seperti dealer mesin karena menumpuknya bantuan mesin industri padahal produk hasil industrinya sangat rendah bahkan belum mampu tampil di pasar secara luas. Sementara daerah lain yang produk industrinya sudah tumbuh dan pasarnya luas justru kesulitan untuk memperoleh akses bantuan alat industri.

Dari hasil diskusi ini maka bapak Bambang Asnadi merasa bertanggung jawab secara moral untuk menjadi wadah aspirasi masyarakat yang adil. Agar bantuan untuk UMKM bisa merata dan berprioritas pada manfaat yang lebih besar. Karena ini akan menjadi sumber pendapatan yang positif dan berkonstribusi riil bagi daerah.

Melihat fenomena ini maka dapat disimpulkan bahwa bantuan alat industri dan bantuan lainnya bagi UMKM kabupaten kepahiang tidak memperioritaskan pada keadilan pembangunan dan pembangunan ekonomi masyarakat secara luas. Ini lebih kental dengan nuansa politik agenda lima tahunan.

Masyarakat khususnya pelaku UMKM berharap agar pemerintahan yang akan datang tidak berlaku diskriminatif secara politik. Agar pelaku usaha UMKM diberi akses dan perhatian yang sama. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepribadian melalui pelatihan-pelatiahan bisnis ke luar daerah secara bergantian. Karena selama ini kesempatan hanya diberikan untuk orang yang sama dari waktu ke waktu padahal mereka setelah mengikuti berbagai pelatihan dan pameran ke luar daerah tetapi tetap tidak menunjukan pertumbuhan usaha yang jelas. Produk mereka juga tidak tumbuh, pasar mereka tidak tumbuh dan agar pemerintah khsususnya para kepala dinas tidak anti kritik.





Indonesia akan segera melaksanakan perhelatan besar dalam kontestasi politik beberapa minggu kedepan. Meskipun pelaksanaan resmi pilpres baru akan berlangsung di tahun 2019 mendatang, tetapi suasana hiruk pikuk telah memenuhi berbagai diskusi di masyarakat. Hal yang menjadi pembeda dari perhelatan yang sama di era lampau adalah, adanya media sosial digital yang berperan membangun opini dan mendistribusikan secara masal ke seluruh dunia. Ini sangat berbeda ketika hanya media surat kabar yang menjadi alat pendistribusi informasi. Hanya kalangan tertentu yang dapat menyampaikan informasi sepihak. Dan kontrol sosial menjadi lebih mudah dilakukan karena informasi yang didistribusikan lebih bersifat informasi sepihak. Apalagi dimasa lampau surat kabar dan media televisi hanya dapat diterima di kawasan yang tidak terlalu luas. Sejak menguatnya pertumbuhan layanan dan penggunaan internet, menjadikan informasi tersaji sangat cepat  hanya dalam hitungan per mili detik. Dimasa lampau, diskusi di rumah makan atau sekedar obrolan rakyat biasa di warung kopi tidak akan terdistribusi begitu luas. Tetapi, saat ini diskusi sederhana bahkan untuk informasi opini yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya pun (HOAX) dapat tersaji dalam waktu cepat.

Tetapi yang paling fatal adalah, tidak semua pengguna jejaring sosial adalah mereka yang mapan secara psikologi. Sebagian mereka hanya pengguna yang kritis secara emosional dan membuat tanggapan terhadap informasi secara tidak proporsional. Sebagai contoh sederhana, mereka yang mendukung salah satu pasangan calon yang akan melakukan kontestasi politik di tahun 2019 mendatang yakni Prabowo subianto – Sandiaga salahudin uno dengan # 2019 ganti presiden dan rival politiknya Joko widodo – Ma’ruf amin dengan #Jokowi2periode, akan bereaksi secara emosional tanpa memahami esensi informasi yang mereka terima atau tersaji di media digital.

Sekelompok pendukung fanatik masing – masing pasangan calon presiden ini secara membabi buta ketiaka menerima informasi yang seolah – olah menyudutkan tokoh yang mereka dukung, psikologi mereka hanya emosional yang berujung pada perang urat syaraf dan perang informasi palsu di media sosial yang bermuara pada penghinaan ke masing – masing lawan pendukung pasangan calon.

Sangat ironis, ini menjadi sasaran mudah bagi para penebar informasi palsu untuk membangun opini bagi masyarakat tentang tokoh yang akan diusung dalam kontestasi politik nantinya. Bahkan istilah “HOAX” menjadi senjata untuk memantik perseteruan antar pendukung di media sosial. Padahal secara gestur linguistik, masih banyak diantara pengguna jejaring sosial yang ikut terlibat dalam diskusi digital tersebut tidak benar – benar memahami apa yang mereka terima dan kemudian mereka distribusikan secara luas. Banyak diantara mereka menanggapi sebuah informasi fakta yang terkonfirmasi dengan tanggapan “HOAX” hanya karena informasi tersebut terasa tidak berpihak kepada tokoh idolanya. Atau setuju dengan sebuah informasi berita dari situs tidak resmi hanya karena berita yang disajikan memenuhi ekspetasi positif pada kandidat yang didukungnya.

HOAX selalu disadari oleh para netizen yang sebenarnya minim literasi publik ini adalah sebuah berita yang mengkritik kegagalan tokoh yang didukungnya. Dan menjadi bukan HOAX apabila narasi beritanya memuji tokoh tersebut. Padahal HOAX adalah informasi palsu yang didistribusikan melalui media internet tidak hanya karena berita tersebut sebuah kritik kegagalan, tetapi juga sebuah pujian keberhasilan yang tidak benar – benar terjadi. Sebagai salah satu contoh ketika sebuah media online melansir berita tentang kegagalan ekonomi dan kemudian didistribusikan melalui facebook, para pendukung pemerintah akan menanggapi ini adalah berita HOAX. Tetapi tidak mengkategorikan ini sebagai berita HOAX jika berita yang dilansir tentang “pemerintah sukses membangun jalan Tol lintas sumatera dari bengkulu ke lubuk linggau” dengan menyajikan foto bentangan jalan tol yang luas, panjang dan megah. Padahal ini juga dikategorikan berita HOAX, karena faktanya samapai berita tersebut disebar luaskan jalan tol tersebut tidak benar – benar ada.

Kembali lagi, bahwa dalam kontestasi politik di tahun 2019 yang akan mendaulat dua pasangan kandidat calon presiden republik indonesia Prabowo Subianto – Sandiaga Salahudin Uno  dan Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Para netizen yang tidak memiliki kemampuan analisis untuk beragam informasi publik di media sosial hanya akan menebarkan tambahan informasi sampah di media.

Beberapa hal penting perlu diajarkan kepada masyarakat pengguna internet. Setidaknya ini mampu mengurangi tingkat kesesatan informasi apakan berita tersebut palsu atau bukan, apakah informasi tersebut bersifat opini seseorang atau karya jurnalistik. Salah satu caranya adalah menginformasikan kepada masyarakat awam yang ikut berdiskusi aktif di media sosial bahwa, berita HOAX biasanya didistribusikan menggunakan url situs gratisan seperti blogspot atau wordpres.com , apakah isi dari situs pendistribusi adalah situs yang memiliki konten berita berimbang atau sengaja didesain untuk mendukung salah satu pasangan calon. Apakah termasuk domain TLD (top level domain) atau situs dengan domain yang terlalu asing bagi masyarakat.yang umum misalnya .com,.org,.gov. Apakah kalau menggunakan second level domain termasuk versi domain yang terdaftar menggunakan izin resmi atau bukan. Misal, .co.id,.or.id,.go.id.

Artinya, bahwa tidak seluruh pengguna jejaring sosial adalah mereka yang kaya akan literasi. Sebagian mereka justru para pendukung fanatik yang mudah terdoktrin oleh isu – isu atau justru tekanan lingkungan sehingga secara sugesti mereka akan memutuskan bahwa segala yang baik tentang tokoh dukungannya adalah berita prestasi yang memang harus diterima dengan sukarela oleh seluruh masyarakat. Dan segala berita yang buruk tentang tokoh pendukungnya adalah HOAX. Parahnya lagi, mereka terkadang tidak membaca tuntas serta memahami apa maksud yang terselip dalam setiap kalimat dari berita yang tersaji. Ketika ada satu kalimat yang seolah mengarah kepada merendahkan kandidat yang didukung maka akan langsung di justifikasi sebagai “HOAX”.




Universitas harvard adalah sebuah lembaga pendidikan impian banyak orang. Siapa pun dia akan menjadi sangat bangga memperoleh gelar akademi dari universitas harvard. Tidak banyak yang memperoleh kesempatan untuk mendapatkan gelar kehormatan dari sebuah universitas ternama tingkat dunia itu. Hanya sedikit dari kebanyakan pelajar indonesia yang bisa kuliah di universitas harvard. Apalagi untuk memperoleh gelar strata tertinggi dari universitas dunia bernama harvard. Kesempatan itu ternyata milik salah satu tokoh dari propinsi bengkulu Bando Amin C. kader. Adalah sebuah kehormatan bagi dunia pendidikan di propinsi bengkulu khususnya salah satu universitas swasta ternama di propinsi bengkulu, yaitu universitas dehasen bengkulu.

Bando Amin C. Kader. siapa warga bengkulu yang tidak mengenal tokoh politik lokal yang sempat menjadi anggota legislatif senayan jakarta. Kesuksesannya dalam berpolitik menjadikannya seorang kepala daerah tingkat dua (Bupati) selama 2 periode. Sejak pembagian wilayah daerah kabupaten rejang lebong menjadi dua dan terbentuk kabupaten kepahiang dibawah kepemimpinan bando amin c. Kader kepahiang tumbuh menjadi kabupaten baru yang pesat secara ekonomi dan pembangunan infrastrukturnya. Bando Amin C. Kader bukan seorang orator politik yang suka berpura – pura. Kebiasannya gaya bicaranya yang spesial membuat Bando Amin C. Kader sebagai pemimpin daerah yang terus didambakan sebagian besar masyarakat kabupaten kepahiang. Ketika tahun politik baru akan dimulai dan Bando Amin C. Kader  menjadi salah satu penasehat di partai perindo bentukan Hary tanoe soedibjo boss MNC Grup membuat sebagian besar masyarakat kabupaten kepahiang kembali meletakkan harapan kepada Bando Amin C. Kader untuk kembali menjadi calon kepala daerah kabupaten kepahiang. Dr.Bando Amin C. Kader.,MM, dinilai sebagian besar masyarakat sebagai pemimpin yang mampu memberi sentuhan perubahan bagi pembangunan daerah kabupaten kepahiang. Seni berpolitiknya yang lebih mendekat kepada masyarakat di semua lapisan sosial membuat Bando Amin C. Kader sangat disukai dan disegani lawan dan kawan politiknya.

Sejak berakhirnya masa jabatan Bando Amin C. Kader sebagai kepala daerah kabupaten kepahiang setelah dua kali periode. Kabupaten kepahiang seperti kehilangan seorang pemimpin yang mampu memberi keceriaan dan sentuhan perubahan dalam pembangunan. Kabupaten kepahiang terasa berhenti dan kembali ke titik nol derajat. Itu sebabnya ketika terdengar Bando Amin C. Kader akan kembali mencalonkan diri menjadi kepala daerah dan bersedia untuk kembali mengabdikan ilmunya dengan jalan politik di kabupaten kepahiang, sebagian besar masyarakat sangat bergembira setelah pembagunan kabupaten kepahiang mengalami stagnasi di bawah kepemimpinan Dr. Hidayatullah Sjadid.

Tetapi kabar yang kurang menggembirakan adalah ketika Dr. Bando Amin C.Kader lulusan doktor universitas harvard yang memiliki banyak prestasi politik itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Beberapa orang menduga ini adalah indikasi politik dan beberapa orang berpendapat sebaliknya.

Tetapi apabila kasus korupsi ini kemudian membuktikan bahwa Bando Amin C. Kader adalah pelaku korupsi seperti yang disangkakan. Maka ini akan menjadi tendensi buruk bagi popularitasnya sebagai politikus sukses dan semua gelar akademi yang dimilikinya.

Sementara jika ini ada kaitan karena Bando Amin C. Kader akan kembali mencalonkan diri sebagai kepala daerah di kawasan transit ekonomi segitiga emas ini. Maka, sangat jelas bahwa lawan politik praktisnya yang memang menginginkan agar kabuapten kepahiang tetap tenggelam perekonomiannya di masa depan. Pendapat tentang indikasi politik ini dilatarbelakangi oleh beberapa kasus sebelumnya. Beberapa politikus kabupaten kepahiang berusaha agar Bando Amin C. Kader gugur dari panggung politik. Dan kabupaten kepahiang akan dipimpin oleh politikus berlatarbelakang pedagang pasar yang tidak berpihak kepada kesejahteraan petani.

Kemungkinan lain adalah kasus sebagaimana yang sedang terjadi di negara malaysia sekarang ini. Bagaimana Dr. Anwar Ibrahim ditenggelamkan dari panggung politik dan harus mendekam dalam penjara hanya karena ide – ide besarnya yang memihak kepada masyarakat ekonomi lemah. Sepertinya Dr.Bando Amin C. Kader akan mengalami malam yang sama seperti yang dialami oleh tokoh perubahan malaysia Dr. Anwar Ibrahim. Ini akan menjadi sangat buruk bagi perkembangan politik, perkembangan sosial dan perkembangan ekonomi untuk kemajuan sebuah daerah atau negara.

Fakta yang terjadi saat ini adalah terasa berjaraknya antara pemerintah dan masyarakatnya. Potensi perekonomian daerah yang tidak tumbuh. Dan kepala daerah yang miskin dari ide – ide gemilang. Tidak ada pembangunan infrastruktur yang merata dan pembangunan ekonomi masyarakat yang hanya tersentralisir di kawasan tertentu dan hanya memeberi dampak kecil terhadap perubahan besar pembangunan secara menyeluruh.





Media sosial adalah fenomena baru sejak lebih kurang sepuluh tahun terakhir.  Media sosial adalah cara efektif untuk membangun citra seseorang atau pun kelompok. Dalam berbagai hal media sosial telah menciptakan iklim ekonomi baru. Media sosial seperti facebook, twitter, dan akhir-akhir ini instagram telah menjadi sebuah kebutuhan sekaligus dilema dalam waktu bersamaan. Dengan media sosial seseorang yang tidak populer bahkan sangat jauh dari populer bisa mendadak menjadi seorang figur yang populer. Tetapi disisi lain seseorang yang kepopulerannya telah terbukti mapan dan pada posisi yang sangat tinggi bisa hancur seketika oleh media sosial. Terbukti dengan media sosial banyak tokoh – tokoh baru yang lahir dalam keadaan prematur. Media sosial sangat berperan dalam menaikkan popularitas seseorang.

Tetapi media sosial sebagai sumber berita terkadang tidak valid dan beberapa berita yang tidak terkonfirmasi secara legal. Beberapa akun media sosial benar-benar sebagai media yang sah sebagai sarana komunikatif, tetapi sebagian besar dari akun media sosial adalah akun sampah. Maka sikap penerima berita adalah harus mampu melakukan konfirmasi sendiri secara teliti. Secara sederhana  kita dapat merasakan psikologi pemilik akun tersebut. Apakah akun tersebut tergolong akun sampah karena akun tersebut dibuat tanpa identitas yang jelas. Apakah akun tersebut akun premium yang memang dimilki oleh seseorang atau kelompok atau lembaga tertentu dengan paparan identitas yang jelas, terkonfirmasi dan valid. Apakah akun tersebut sengaja dibuat oleh lembaga tertentu untuk membangun identitas lembaga tersebut atau membagun identitas seorang tokoh.

Saat ini media sosial juga sebagai sarana yang sangat efisien untuk berpolitik. Karena biaya untuk membangun sebuah produk lembaga konsultan politik menjadi lebih murah dengan jangkauan yang sangat luas serta lebih cepat mempengaruhi psikologi masyarakat awam. Namun demikian, beberapa teknik kampanye yang tidak melanggar etika berpolitik tertap harus diperhatikan. Cara yang efisien salah satunya adalah menggunakan jasa para blogger untuk membuat artikel positif tentang calon tokoh menggunakan situs blog yang telah terkoneksi dengan semua akun media sosial untuk calon tokoh tersebut. Biarkan para blogger menceritakan tentang semua hal positif dari pribadi tokoh dan lembaganya yang seolah-olah tidak ada ikatan sama sekali antara tokoh dan blogger. Dengan teknik ini tentu biaya politik dapat ditekan lebih murah. Hal ini lebih positif dari pada tokoh itu sendiri menggunakan media sosial sendiri dan menulis status sendiri untuk memberi tahu tentang berita – berita positif dari pribadinya. Untuk di kota – kota besar yang sudah maju hal ini sudah dilakukan. Sayangnya untuk politikus daerah yang baru mengenal media sosial belum sepenuhnya dilakukan. Para politikus masih ingin berkomunikasi secara langsung dengan calon audiens menggunakan media sosial. Ini terkesan sangat tidak profesional. Status yang mereka buat di media sosial terkadang cenderung tidak memberi dampak yang serius dan relevant terhadap psikologi penerima pesan. Kekanak – kanakan dan sangat terkesan bodoh. Mereka ingin menunjukan bahwa hal positif sedang dia lakukan dan berharap bahwa masyarakat yang terkoneksi dengan media sosial memberi dukungan positif terhadap kegiatan yang dia beritakan melalui media sosial tersebut. Ini secara umum justru akan menurunkan popularitas tokoh tersebut.

Jika cara – cara yang telah dilakukan oleh para politikus dari kota – kota besar  yang telah maju juga dilakukan oleh para politikus daerah. Tentu banyak hal yang bisa dibangun antara lain. Konstribusi dari dan untuk blogger lebih nyata. Status yang tayang di media sosial berupa tautan yang bisa viral dengan lebih positif dan lebih terkesan sangat profesional. Terlihat bahwa pujian positif bukan berasal dari diri sendiri, tetapi berasal dari pihak profesional yang beritanya terkonfirmasi validitasnya. Tokoh yang di sajikan terkesan lebih natural seolah benar-benar suara dari masyarakat yang terrangkum dalam sebuah berita legal.

Cara ini selain memberi peluang kerja para penggiat website blog , juga turut mengasah kemampuan dan kecerdasan para penulis pemula untuk menjadi penulis profesional. Akun media sosial yang digunakan tentu akun profesional dan premium yang isi statusnya bukan dukungan dan pujian murahan.

Bahwa politik praktis adalah jalan untuk mencapai kekuasaan dengan jalan yang lebih pendek dan sederhana. Meskipun harus disadari etika dalam politik praktis cenderung memiliki identitas jalan politik yang buruk. Tetapi fenomena politik dalam negara demokrasi adalah politik dengan perjuangan pendek untuk jangka pendek. Lahirnya media sosial menjadi pemicu lahirnya politikus prematur dalam politik praktis. Seseorang yang asing bisa di desain dan muncul tiba –tiba sebagai tokoh yang cerdas, berkarakter dan pahlawan masa depan. Ini adalah dilema. Tetapi kita terlanjur sepakat dengan keadaan ini dan bagaimana kita mampu keluar sebagai pemenang dengan cara yang baik, etika yang baik dengan biaya yang sangat efisien dalam berpolitik.

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} OUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#http://facebook.com/eka susiani} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.coom} {pinterest#http://pinterest.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by Leontura. Powered by Blogger.